ANGKAT TEMA “SUARA NYATA, PERUBAHAN NYATA”, LUKITO HADI SUMARTO AJAK MASYARAKAT PEDULI KESEHATAN MENTAL
|
Lampung Tengah — Koordinator Sekretariat Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah, Lukito Hadi Sumarto, mengucapkan Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day yang diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental, memperkuat kepedulian terhadap sesama, serta mendorong terciptanya lingkungan keluarga, masyarakat, dan tempat kerja yang lebih sehat, aman, inklusif, serta mendukung kesejahteraan setiap individu.
Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun 2026 mengangkat tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” atau “Pengalaman Nyata Didengarkan: Suara Nyata, Perubahan Nyata.” Tema ini menyoroti pentingnya mendengarkan pengalaman orang-orang yang hidup dengan gangguan kesehatan mental atau People with Lived Experience (PWLE), serta memastikan bahwa suara dan pengalaman mereka turut dipertimbangkan dalam pembentukan kebijakan, pengembangan layanan dukungan, dan penerapan praktik yang lebih baik di lingkungan kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Melalui momentum peringatan tersebut, Lukito Hadi Sumarto mengajak seluruh jajaran Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah dan masyarakat untuk semakin memahami bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan manusia secara menyeluruh. Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan mental perlu diwujudkan melalui kepedulian, komunikasi yang terbuka, sikap saling menghormati, serta kesediaan untuk mendengarkan pengalaman orang lain tanpa memberikan penilaian yang merendahkan.
Ia menilai bahwa kesehatan mental bukan hanya persoalan individu, melainkan juga berkaitan dengan lingkungan tempat seseorang menjalani kehidupan dan melaksanakan aktivitas sehari-hari. Dukungan keluarga, hubungan sosial yang positif, lingkungan kerja yang kondusif, serta akses terhadap layanan yang sesuai merupakan sejumlah unsur yang dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi kesejahteraan mental.
“Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026. Mari kita tingkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental dengan membangun kebiasaan saling mendengarkan, menghargai pengalaman setiap individu, dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan. Setiap orang memiliki cerita dan tantangan yang berbeda, sehingga sudah sepatutnya kita mengedepankan empati, menghindari stigma, serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua,” ujar Lukito Hadi Sumarto.
Menurut Lukito, tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” memberikan pesan bahwa pengalaman nyata seseorang perlu mendapatkan perhatian yang serius. Pengalaman mereka yang menghadapi persoalan kesehatan mental dapat memberikan pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi, hambatan dalam memperoleh dukungan, serta kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Mendengarkan pengalaman tersebut bukan sekadar memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berbicara, tetapi juga menunjukkan kesediaan untuk memahami, menghargai, dan mempertimbangkan apa yang mereka sampaikan. Dengan demikian, pengalaman individu dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperbaiki cara masyarakat memberikan dukungan dan membangun hubungan yang lebih manusiawi.
Lukito menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan secara bermartabat, termasuk mereka yang sedang menghadapi persoalan kesehatan mental. Kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan perlakuan berbeda yang merugikan, mengucilkan, atau mengurangi penghargaan terhadap kemampuan seseorang. Sebaliknya, masyarakat perlu memberikan ruang yang setara bagi setiap individu untuk berpartisipasi dan menjalankan perannya sesuai dengan kemampuan serta kebutuhannya.
Ia juga mengingatkan bahwa stigma terhadap kesehatan mental dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi atau mencari bantuan. Ketakutan akan penilaian negatif sering kali membuat individu memilih untuk diam, meskipun sebenarnya membutuhkan dukungan. Karena itu, upaya menghapus stigma harus dimulai dari perubahan sikap dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kepedulian dapat ditunjukkan melalui tindakan sederhana, seperti mendengarkan tanpa menyela, tidak meremehkan persoalan orang lain, menjaga kerahasiaan cerita yang dipercayakan, serta memberikan respons yang menghargai perasaan dan pengalaman seseorang. Sikap tersebut dapat membantu membangun rasa aman sekaligus memperkuat hubungan sosial yang sehat.
Dalam konteks kelembagaan, Lukito Hadi Sumarto menilai bahwa kesehatan mental juga perlu menjadi perhatian dalam membangun lingkungan kerja yang produktif, harmonis, dan berkelanjutan. Lingkungan kerja yang baik tidak hanya berorientasi pada penyelesaian tugas dan pencapaian target, tetapi juga memperhatikan kualitas komunikasi, hubungan antarsesama pegawai, penghargaan terhadap kontribusi individu, serta tersedianya ruang untuk menyampaikan kendala secara tepat.
Sebagai Koordinator Sekretariat Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah, Lukito memiliki peran dalam mendukung pelaksanaan tugas kelembagaan melalui koordinasi administrasi dan fasilitasi kebutuhan sekretariat. Dalam menjalankan fungsi tersebut, komunikasi yang efektif, kerja sama, kedisiplinan, serta koordinasi antarsesama jajaran menjadi bagian penting untuk menunjang kelancaran pekerjaan.
Ia memandang bahwa lingkungan kerja yang saling mendukung dapat membantu setiap pegawai menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik. Ketika komunikasi berlangsung secara terbuka dan setiap individu merasa dihargai, koordinasi dapat berjalan lebih konstruktif, persoalan pekerjaan dapat dibicarakan secara tepat, dan kerja sama tim dapat semakin diperkuat.
“Lingkungan kerja yang sehat tidak hanya dibangun melalui kedisiplinan dan pencapaian kinerja, tetapi juga melalui sikap saling menghargai, komunikasi yang baik, dan kepedulian terhadap kondisi sesama. Kita perlu membangun budaya kerja yang memberikan ruang untuk menyampaikan kendala, mencari solusi bersama, dan tetap menghormati martabat setiap individu. Dengan begitu, profesionalitas dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap kesehatan mental,” lanjut Lukito.
Ia menjelaskan bahwa pesan tema tahun ini juga relevan dalam pengembangan kebijakan dan praktik di tempat kerja. Pengalaman langsung dari individu yang menghadapi persoalan kesehatan mental dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memahami apakah lingkungan kerja telah memberikan dukungan yang memadai, apakah komunikasi berjalan secara sehat, dan apakah terdapat hambatan yang perlu diperbaiki.
Melibatkan pengalaman nyata bukan berarti mengabaikan aturan maupun tanggung jawab pekerjaan. Sebaliknya, pendekatan tersebut dapat membantu organisasi memahami kebutuhan pegawai secara lebih menyeluruh sekaligus mencari langkah yang tetap sesuai dengan ketentuan, prinsip keadilan, dan tujuan kelembagaan.
Praktik di tempat kerja yang mendukung kesehatan mental dapat dimulai melalui penyampaian informasi yang jelas, pembagian tugas yang terkoordinasi, komunikasi yang menghormati setiap individu, pencegahan perundungan dan diskriminasi, serta penghormatan terhadap privasi. Apabila diperlukan, organisasi juga dapat mendorong akses terhadap layanan bantuan yang sesuai agar individu memperoleh dukungan berdasarkan kebutuhannya.
Lukito menambahkan bahwa upaya menjaga kesehatan mental tidak dapat dibebankan hanya kepada orang yang sedang menghadapi persoalan. Lingkungan sekitar juga memiliki tanggung jawab untuk membangun suasana yang tidak memperburuk keadaan. Oleh karena itu, dukungan sosial dan budaya kerja yang positif perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menciptakan kesejahteraan bersama.
Sebagai lembaga yang memiliki tanggung jawab dalam pengawasan penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan, Bawaslu membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja secara profesional, berintegritas, dan bertanggung jawab. Pelaksanaan tugas pengawasan memerlukan ketelitian, koordinasi, kemampuan berkomunikasi, serta kerja sama yang baik di antara seluruh jajaran. Dalam mendukung pelaksanaan tugas tersebut, perhatian terhadap kesejahteraan pegawai menjadi salah satu aspek yang patut diperhatikan.
Menurut Lukito, profesionalitas dan kepedulian bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dalam membangun budaya organisasi yang sehat. Setiap pegawai tetap dituntut untuk menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya, sementara komunikasi dan hubungan kerja perlu dijaga agar berlangsung secara saling menghormati dan mendukung pencapaian tujuan bersama.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh jajaran untuk meningkatkan kesadaran dalam mengenali kondisi diri dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kebutuhan pribadi. Menjaga waktu istirahat, membangun hubungan sosial yang positif, mengelola tekanan secara sehat, serta memanfaatkan waktu untuk memulihkan energi merupakan langkah yang dapat membantu menjaga kesejahteraan sehari-hari.
Namun, Lukito juga menekankan bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan melalui langkah mandiri atau dukungan informal. Ketika seseorang mengalami kesulitan yang berat atau berkepanjangan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari tenaga profesional merupakan langkah yang tepat untuk dipertimbangkan. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran untuk menjaga diri dan memperoleh dukungan yang sesuai.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun 2026 juga menjadi pengingat bahwa perubahan yang bermakna membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pelayanan kesehatan, organisasi, dunia kerja, komunitas, keluarga, dan masyarakat dapat mengambil peran dalam memperkuat pemahaman serta menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.
Tema “Pengalaman Nyata Didengarkan: Suara Nyata, Perubahan Nyata” mendorong setiap pihak untuk tidak hanya berbicara mengenai pentingnya kesehatan mental, tetapi juga memastikan bahwa pengalaman orang-orang yang terdampak benar-benar dipertimbangkan. Suara mereka dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi, memperbaiki layanan dukungan, dan mendorong praktik yang lebih menghormati hak serta martabat manusia.
Bagi Lukito, mendengarkan pengalaman nyata juga merupakan bagian dari budaya komunikasi yang baik. Dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam organisasi, kesediaan untuk menerima masukan dan memahami sudut pandang orang lain dapat membantu mengurangi kesalahpahaman serta membuka peluang untuk menemukan solusi yang lebih tepat. Budaya tersebut penting untuk membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan, tanggung jawab, dan penghormatan.
Nilai saling mendengarkan dan menghargai juga sejalan dengan upaya membangun kehidupan demokrasi yang sehat. Demokrasi membutuhkan keterbukaan, partisipasi, dan penghormatan terhadap suara masyarakat. Setiap individu perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan pendapat dan pengalaman secara aman, sementara pihak lain diharapkan mampu menerima perbedaan dengan sikap dewasa dan bertanggung jawab.
Dalam konteks pengawasan pemilu partisipatif, komunikasi yang terbuka dan penghormatan terhadap setiap suara dapat mendukung tumbuhnya partisipasi masyarakat yang lebih bermakna. Masyarakat yang terbiasa berdialog, mendengarkan, dan menghargai perbedaan memiliki landasan yang baik untuk memperkuat kehidupan sosial yang harmonis sekaligus mendukung demokrasi yang inklusif.
Lukito berharap peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengingat untuk melakukan perubahan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, baik dengan memperhatikan kondisi keluarga, mendukung teman yang membutuhkan, maupun membangun komunikasi yang lebih sehat dengan rekan kerja.
“Perubahan nyata dimulai ketika kita mau mendengarkan, memahami, dan mempertimbangkan pengalaman orang lain. Mari kita ciptakan lingkungan yang tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga menghargai manusia yang menjalankan tanggung jawab tersebut. Dengan empati, komunikasi yang baik, dan dukungan yang tepat, kita dapat membangun lingkungan kerja dan masyarakat yang lebih sehat, inklusif, serta bermartabat,” tutup Lukito Hadi Sumarto.
Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah berharap momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 dapat semakin meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental sekaligus mendorong terwujudnya budaya kerja dan kehidupan bermasyarakat yang lebih peduli. Melalui semangat mendengarkan pengalaman nyata, menghargai setiap suara, dan memperkuat dukungan yang sesuai, diharapkan tercipta perubahan yang tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan dan masyarakat secara luas.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T