KPU TULANG BAWANG GELAR BEDAH BUKU SERI II, FEBRI INDRA KURNIAWAN SAMPAIKAN SAMBUTAN SEBAGAI KEYNOTE SPEAKER
|
Lampung Tengah – Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung, Febri Indra Kurniawan, S.H., hadir sebagai keynote speaker dalam kegiatan Bedah Buku Seri II bertema “Dana Kampanye dan Calon Legislatif Perempuan” yang diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Tulang Bawang pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula KPU Kabupaten Tulang Bawang dan dilaksanakan secara hybrid dengan memanfaatkan sarana pertemuan daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan pengembangan literasi kepemiluan yang mengangkat dua isu penting dalam penyelenggaraan pemilu, yakni tata kelola dana kampanye serta keterlibatan perempuan dalam pencalonan anggota legislatif. Melalui kegiatan bedah buku, peserta diharapkan dapat memperluas wawasan, memperdalam pemahaman terhadap dinamika kepemiluan, serta mendiskusikan berbagai tantangan yang berkaitan dengan pelaksanaan pemilu yang transparan, akuntabel, inklusif, dan berintegritas.
Kehadiran Febri Indra Kurniawan, S.H., sebagai keynote speaker menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu KPU Provinsi Lampung, kehadirannya memberikan konteks kelembagaan terhadap pembahasan isu-isu kepemiluan yang menjadi tema utama kegiatan. Sambutan keynote speaker juga menjadi pengantar bagi peserta untuk memahami relevansi tema yang dibahas dengan pelaksanaan demokrasi dan penyelenggaraan pemilu.
Kegiatan Bedah Buku Seri II ini tidak hanya berorientasi pada pembahasan sebuah buku, tetapi juga membuka ruang untuk mempertemukan gagasan, pengetahuan, dan pengalaman mengenai berbagai persoalan dalam proses pemilu. Melalui forum tersebut, isu dana kampanye dan calon legislatif perempuan dapat dikaji dari perspektif regulasi, tata kelola penyelenggaraan pemilu, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendukung proses demokrasi.
Dana kampanye merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan pemilu karena berkaitan dengan pembiayaan kegiatan kampanye peserta pemilu untuk memperkenalkan visi, misi, program, dan gagasan kepada masyarakat. Pengelolaan dana kampanye yang sesuai dengan ketentuan menjadi bagian dari upaya menjaga keterbukaan dan akuntabilitas dalam kompetisi politik.
Dalam konteks penyelenggaraan pemilu, pemahaman mengenai dana kampanye perlu terus diperkuat agar berbagai pihak dapat memahami aturan dan mekanisme yang mengatur penerimaan serta pengeluaran dana kampanye. Aspek ini juga berkaitan dengan tanggung jawab peserta pemilu dalam memenuhi ketentuan pelaporan dan menjaga agar aktivitas kampanye dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pembahasan mengenai dana kampanye menjadi relevan karena integritas pemilu tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara, tetapi juga oleh proses yang berlangsung sebelum hari pemungutan suara. Kampanye merupakan salah satu tahapan penting ketika peserta pemilu menyampaikan gagasan dan menawarkan program kepada masyarakat. Oleh sebab itu, tata kelola pembiayaan kampanye perlu menjadi perhatian dalam upaya menciptakan kompetisi politik yang berlangsung sesuai aturan.
Melalui kegiatan bedah buku ini, isu dana kampanye dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami hubungan antara regulasi, transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan pemilu. Diskusi yang berbasis pengetahuan diharapkan dapat memperluas perspektif peserta mengenai pentingnya kepatuhan terhadap aturan serta tanggung jawab setiap pihak dalam menjaga integritas proses demokrasi.
Selain itu, peningkatan literasi mengenai dana kampanye dapat membantu masyarakat memahami bahwa pemilu merupakan proses yang memiliki berbagai dimensi. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai pemilih, tetapi juga dapat berkontribusi melalui pemahaman terhadap aturan, pengawasan sesuai kewenangan, dan partisipasi yang bertanggung jawab.
Selain membahas dana kampanye, kegiatan Bedah Buku Seri II mengangkat tema calon legislatif perempuan sebagai bagian dari diskusi mengenai partisipasi politik dan keterwakilan dalam demokrasi.
Keterlibatan perempuan dalam pencalonan anggota legislatif merupakan salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan demokrasi yang inklusif. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam politik memberikan ruang bagi perempuan untuk menyampaikan aspirasi, berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan, serta terlibat dalam perumusan kebijakan publik.
Pembahasan mengenai calon legislatif perempuan juga membuka kesempatan untuk memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pencalonan, pemenuhan ketentuan peraturan perundang-undangan, akses terhadap informasi kepemiluan, serta tantangan yang dapat muncul dalam proses kampanye.
Partisipasi perempuan dalam politik tidak cukup dipahami hanya melalui kehadiran dalam daftar pencalonan. Pembahasan yang lebih luas juga diperlukan untuk melihat bagaimana kesempatan berpartisipasi dapat didukung melalui pendidikan politik, penguatan kapasitas, akses terhadap sumber daya, serta lingkungan politik yang memberikan ruang bagi keterlibatan secara bermakna.
Dalam kerangka tersebut, tema calon legislatif perempuan menjadi relevan untuk dibahas bersama dengan persoalan dana kampanye. Keduanya membuka ruang kajian mengenai hubungan antara tata kelola pembiayaan kampanye, kesempatan berkompetisi, dan partisipasi politik yang inklusif. Pembahasan ini dapat memperkaya pemahaman peserta mengenai berbagai faktor yang berkaitan dengan proses pencalonan dan pelaksanaan kampanye.
Melalui kegiatan bedah buku, peserta diharapkan dapat memperoleh sudut pandang yang lebih luas mengenai pentingnya memahami regulasi kepemiluan serta mendukung partisipasi politik yang dilaksanakan berdasarkan prinsip kesetaraan dan ketentuan hukum.
Kegiatan Bedah Buku Seri II yang diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Tulang Bawang menjadi salah satu bentuk ruang pembelajaran untuk mendiskusikan persoalan kepemiluan melalui pendekatan literasi. Buku dan karya ilmiah dapat menjadi sumber pengetahuan yang membantu peserta memahami suatu isu secara lebih terstruktur, sekaligus memberikan landasan untuk melakukan diskusi dan pertukaran gagasan.
Literasi kepemiluan memiliki peran dalam memperkuat pemahaman terhadap proses, regulasi, dan prinsip penyelenggaraan pemilu. Pengetahuan tersebut diperlukan oleh penyelenggara pemilu maupun masyarakat agar dapat memahami berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan demokrasi secara lebih komprehensif.
Melalui forum bedah buku, pembahasan terhadap suatu karya dapat dikembangkan menjadi diskusi yang menghubungkan konsep dan gagasan dengan praktik kepemiluan. Peserta dapat memperluas pemahaman mengenai suatu persoalan, mengidentifikasi aspek yang perlu mendapat perhatian, serta memperkaya perspektif melalui pertukaran pemikiran.
Dalam konteks tema “Dana Kampanye dan Calon Legislatif Perempuan”, literasi kepemiluan dapat membantu mempertemukan pembahasan mengenai tata kelola pembiayaan kampanye dengan isu keterwakilan dan partisipasi politik. Kedua tema tersebut memiliki relevansi dalam memahami bagaimana proses pemilu dapat dilaksanakan dengan memperhatikan aturan, transparansi, akuntabilitas, dan kesempatan berpartisipasi.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pengembangan pengetahuan kepemiluan membutuhkan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Perkembangan regulasi, dinamika politik, dan berbagai tantangan penyelenggaraan pemilu memerlukan ruang diskusi yang memungkinkan para pemangku kepentingan memperbarui pengetahuan serta memperdalam pemahaman mereka.
Kegiatan Bedah Buku Seri II dilaksanakan secara hybrid, dengan pusat kegiatan di Aula KPU Kabupaten Tulang Bawang dan dukungan pertemuan daring melalui Zoom Meeting. Pola pelaksanaan ini memadukan pertemuan langsung dengan akses virtual sebagai alternatif bagi peserta untuk mengikuti kegiatan.
Pemanfaatan teknologi komunikasi dalam kegiatan edukasi kepemiluan memberikan fleksibilitas dalam penyampaian materi dan pelaksanaan diskusi. Peserta yang hadir secara langsung dapat mengikuti kegiatan di lokasi, sementara peserta daring dapat bergabung melalui sarana pertemuan virtual sesuai dengan pengaturan kegiatan.
Model hybrid juga menunjukkan bahwa kegiatan literasi dan pengembangan wawasan kepemiluan dapat diselenggarakan melalui berbagai metode. Pemanfaatan teknologi dapat mendukung komunikasi, penyampaian informasi, dan pertukaran gagasan tanpa menghilangkan tujuan utama kegiatan, yaitu memperdalam pemahaman terhadap isu yang dibahas.
Dengan dukungan sarana pertemuan daring tersebut, kegiatan Bedah Buku Seri II diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang terarah dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengikuti diskusi mengenai dana kampanye serta calon legislatif perempuan.
Kehadiran Febri Indra Kurniawan, S.H., sebagai keynote speaker dalam kegiatan Bedah Buku Seri II menjadi bagian dari rangkaian upaya KPU Kabupaten Tulang Bawang dalam menghadirkan forum diskusi mengenai isu-isu strategis kepemiluan.
Tema yang diangkat memberikan kesempatan untuk melihat pemilu dari dua sisi yang saling berkaitan. Dana kampanye berkaitan dengan aspek tata kelola dan pertanggungjawaban pembiayaan kampanye, sedangkan calon legislatif perempuan berkaitan dengan partisipasi dan keterwakilan dalam proses politik. Pemahaman terhadap kedua isu tersebut dapat memperkaya wawasan mengenai tantangan dan prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan demokrasi.
Melalui kegiatan seperti ini, penguatan literasi kepemiluan diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Pengetahuan mengenai aturan dan proses pemilu perlu terus dikembangkan agar berbagai pihak memiliki pemahaman yang memadai dalam menjalankan peran masing-masing. Diskusi yang berbasis literatur juga dapat mendorong kebiasaan mempelajari persoalan kepemiluan melalui sumber informasi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kegiatan Bedah Buku Seri II bertema “Dana Kampanye dan Calon Legislatif Perempuan” yang diselenggarakan pada Kamis, 1 Oktober 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai ini menjadi ruang untuk memperluas pembahasan mengenai tata kelola pemilu dan partisipasi politik. Dengan pusat kegiatan di Aula KPU Kabupaten Tulang Bawang serta dukungan Zoom Meeting, kegiatan tersebut dilaksanakan melalui pendekatan hybrid untuk memfasilitasi pertemuan langsung dan daring.
Pada akhirnya, penguatan literasi kepemiluan merupakan bagian dari upaya membangun pemahaman yang lebih baik mengenai proses demokrasi. Melalui diskusi, pembelajaran, dan pertukaran gagasan, isu transparansi dana kampanye serta keterlibatan perempuan dalam politik dapat terus menjadi bagian dari pembahasan yang konstruktif dalam pengembangan demokrasi di Indonesia.
Literasi yang kuat, pemahaman terhadap regulasi, dan partisipasi yang bertanggung jawab merupakan unsur penting dalam mendukung penyelenggaraan pemilu yang transparan, akuntabel, inklusif, dan berintegritas.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T