MUKTAMAR KE-35 NU, HARMONO DORONG PENGUATAN PERSATUAN DAN DEMOKRASI
|
Koordinator Divisi Pencegahan, Humas dan Parmas Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah, Harmono, menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terselenggaranya Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dilaksanakan pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Muktamar Ke-35 NU menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama dalam memperkuat konsolidasi organisasi, mengevaluasi perjalanan kelembagaan, sekaligus merumuskan arah gerak organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan masyarakat, bangsa, dan dunia. Muktamar tersebut mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Menjemput Peradaban Dunia”, yang mencerminkan semangat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur sekaligus terus bergerak maju mengikuti perkembangan zaman.
Harmono menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Muktamar Ke-35 NU seraya berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat menghasilkan keputusan dan rekomendasi yang membawa kemaslahatan bagi umat serta memberikan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Selamat dan sukses atas terselenggaranya Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Semoga Muktamar ini menghasilkan keputusan terbaik, semakin memperkuat persatuan, kemandirian organisasi, serta meningkatkan kontribusi NU bagi umat, masyarakat, bangsa dan negara,” ujar Harmono.
Menurut Harmono, tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Menjemput Peradaban Dunia” memiliki pesan yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat saat ini. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, arus informasi yang semakin cepat, serta berbagai tantangan global menuntut setiap organisasi untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Merawat tradisi, menurutnya, merupakan bagian penting dalam menjaga nilai-nilai luhur yang telah menjadi fondasi perjalanan Nahdlatul Ulama. Tradisi keilmuan, kebersamaan, gotong royong, musyawarah, serta kepedulian terhadap kehidupan sosial merupakan nilai-nilai yang perlu terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Namun demikian, menjaga tradisi bukan berarti menutup diri dari perubahan. Sebaliknya, tradisi yang kuat dapat menjadi landasan untuk melahirkan berbagai inovasi dan gagasan baru. Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang baik, organisasi dapat terus berkembang dan memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat.
Sementara itu, penguatan kemandirian menjadi langkah strategis untuk membangun organisasi yang tangguh dan memiliki kemampuan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Kemandirian dalam sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi, teknologi, maupun pengelolaan organisasi menjadi modal penting untuk memastikan keberlanjutan perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat.
Harmono juga memandang bahwa semangat “Menjemput Peradaban Dunia” menunjukkan bahwa NU memiliki visi yang luas dalam menghadapi masa depan. Peradaban dunia membutuhkan kontribusi berbagai elemen masyarakat yang mampu mengedepankan nilai kemanusiaan, perdamaian, toleransi, keadilan, serta penghormatan terhadap keberagaman.
Dalam konteks kehidupan demokrasi, Harmono menilai bahwa nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan erat dengan upaya menciptakan masyarakat yang sadar akan pentingnya demokrasi yang sehat. Demokrasi tidak hanya berbicara mengenai proses pemilihan pemimpin, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat mampu menghargai perbedaan, menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab, serta menjaga ruang publik agar tetap kondusif.
Sebagai Koordinator Divisi Pencegahan, Humas dan Parmas, Harmono menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, media, dan kelompok masyarakat lainnya memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga demokrasi.
Menurutnya, pengawasan partisipatif tidak dapat berjalan secara optimal apabila hanya mengandalkan lembaga pengawas pemilu. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk bersama-sama mencegah berbagai potensi pelanggaran, menjaga integritas proses demokrasi, serta menciptakan suasana kehidupan demokrasi yang aman, damai, dan bermartabat.
“Demokrasi membutuhkan partisipasi masyarakat. Karena itu, sinergi dan kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bersama untuk menjaga demokrasi yang berkualitas dan berintegritas,” ungkap Harmono.
Ia berharap semangat Muktamar Ke-35 NU dapat menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa untuk terus membangun kebersamaan dan memperkuat persatuan. Perbedaan pandangan maupun pilihan merupakan bagian dari dinamika kehidupan demokrasi yang harus disikapi dengan kedewasaan, saling menghormati, dan mengedepankan kepentingan bangsa.
Harmono juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan sekaligus peluang dalam kehidupan masyarakat. Arus informasi yang begitu cepat harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital dan sikap kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, disinformasi, maupun hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan.
Dalam hal ini, nilai-nilai pendidikan dan pembinaan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Nahdlatul Ulama diharapkan dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan generasi muda. Generasi muda sebagai penerus bangsa perlu dibekali dengan karakter, wawasan kebangsaan, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian terhadap kehidupan demokrasi.
Harmono berharap hasil Muktamar Ke-35 NU tidak hanya menjadi pedoman bagi perjalanan organisasi ke depan, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat secara luas. Berbagai keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat peran NU dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan kebangsaan.
Menurutnya, keberadaan organisasi kemasyarakatan yang kuat dan memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa merupakan salah satu modal penting dalam membangun Indonesia yang demokratis dan berkeadaban. Kolaborasi antara lembaga negara dan masyarakat sipil perlu terus diperkuat agar berbagai agenda pembangunan dan demokrasi dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Semoga Muktamar Ke-35 NU menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan kemandirian, memperluas pengabdian, serta menghadirkan gagasan-gagasan yang mampu menjawab tantangan masa depan. Semoga NU semakin maju, semakin mandiri, dan semakin memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan dunia,” pungkas Harmono.
Atas nama jajaran Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah, Harmono kembali menyampaikan selamat dan sukses atas terselenggaranya Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Ia berharap semangat yang diusung melalui tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Menjemput Peradaban Dunia” dapat terus menjadi energi positif dalam memperkuat persaudaraan, kebangsaan, demokrasi, dan kemajuan masyarakat.
Selamat dan sukses Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Mari terus merawat tradisi, memperkuat kemandirian, membangun kolaborasi, dan bersama-sama menjemput peradaban dunia dengan semangat persatuan dan kemanusiaan.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T