Lompat ke isi utama

Berita

PERKUAT KEHUMASAN DIGITAL, SYAMMAS P. SYARBINI PAPARKAN STRATEGI DESAIN KREATIF DAN KOMUNIKASI VISUAL

r

Syammas P. Syarbini Bagikan Strategi Desain Kreatif dan Komunikasi Visual dalam Humas Upgrade Series #2 Bawaslu RI

Lampung Tengah – Syammas P. Syarbini, Canva Verified Expert, Lecturer, sekaligus pengembang @sedesain.id, hadir sebagai pemateri dalam kegiatan Humas Upgrade Series #2: Desain Kreatif, Informasi Efektif yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu, 14 Oktober 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia (Bawaslu RI) dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang kehumasan, khususnya dalam pengembangan desain visual, pengelolaan konten digital, serta penyampaian informasi kelembagaan yang menarik, komunikatif, dan mudah dipahami masyarakat.

Kehadiran Syammas P. Syarbini sebagai pemateri memberikan ruang pembelajaran bagi jajaran pengelola kehumasan Bawaslu untuk memperluas wawasan dan meningkatkan keterampilan dalam menghasilkan produk komunikasi visual yang sesuai dengan kebutuhan publikasi di era digital. Dengan latar belakang sebagai praktisi desain, pendidik, dan Canva Verified Expert, materi yang disampaikan diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengelola kehumasan dalam mengembangkan kreativitas, memahami prinsip desain, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung penyebarluasan informasi kelembagaan.

Kegiatan Humas Upgrade Series #2 mengangkat tema “Desain Kreatif, Informasi Efektif” yang menekankan pentingnya keterpaduan antara kreativitas visual dan ketepatan penyampaian pesan. Dalam komunikasi publik, informasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan materi, tetapi juga oleh kemampuan penyaji dalam mengemas pesan sehingga dapat menarik perhatian, membangun pemahaman, dan mendorong masyarakat untuk memperoleh informasi secara utuh.

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, masyarakat memiliki beragam pilihan dalam mengakses informasi. Media sosial, situs web, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat lembaga publik perlu terus menyesuaikan strategi komunikasinya agar informasi yang disampaikan tetap relevan, mudah ditemukan, serta mampu menjangkau kelompok masyarakat dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Dalam konteks tersebut, desain grafis memiliki peran strategis sebagai salah satu instrumen komunikasi visual. Desain bukan sekadar memperindah tampilan suatu publikasi, melainkan juga membantu menyusun informasi secara terstruktur, menonjolkan pesan utama, dan mempermudah audiens memahami substansi yang disampaikan. Pemilihan elemen visual yang tepat dapat membantu menyederhanakan informasi yang kompleks menjadi sajian yang lebih ringkas dan mudah dicerna tanpa menghilangkan makna utamanya.

Melalui pemaparan materi dalam kegiatan ini, pengelola kehumasan diharapkan semakin memahami bahwa proses pembuatan konten perlu diawali dengan penentuan tujuan komunikasi. Sebelum membuat poster, infografis, atau materi publikasi lainnya, penyusun konten perlu mengetahui pesan utama yang ingin disampaikan, siapa sasaran audiensnya, informasi apa yang paling penting, serta media yang paling sesuai untuk mendistribusikan pesan tersebut.

Perencanaan tersebut menjadi fondasi penting agar desain yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki arah komunikasi yang jelas. Sebuah desain yang baik harus mampu membantu audiens menemukan informasi utama dengan cepat, memahami konteks pesan, dan mengetahui informasi pendukung yang diperlukan. Dengan demikian, setiap elemen visual yang digunakan harus memiliki fungsi dan mendukung tujuan komunikasi.

Salah satu aspek penting dalam desain kreatif adalah kemampuan mengatur hierarki visual. Hierarki visual membantu menentukan urutan informasi yang pertama kali dilihat, dibaca, dan dipahami oleh audiens. Judul, pesan utama, data pendukung, ilustrasi, identitas lembaga, serta informasi tambahan perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak saling mengganggu. Pengaturan yang tepat akan membuat desain lebih terarah dan membantu masyarakat memahami inti informasi dalam waktu singkat.

Selain hierarki visual, pemilihan tipografi juga menjadi unsur penting dalam menghasilkan desain yang efektif. Jenis huruf, ukuran teks, ketebalan, jarak antarbaris, dan kontras tulisan dengan latar belakang perlu diperhatikan untuk memastikan keterbacaan. Dalam publikasi digital yang ditampilkan melalui layar telepon seluler, keterbacaan menjadi faktor yang sangat penting karena sebagian masyarakat mengakses informasi melalui perangkat dengan ukuran layar terbatas.

Penggunaan warna juga perlu direncanakan secara cermat. Warna dapat membantu membangun identitas visual, membedakan kelompok informasi, serta memberikan penekanan pada pesan tertentu. Namun, penggunaan warna yang berlebihan justru dapat mengurangi fokus pembaca. Oleh sebab itu, konsistensi palet warna dan kesesuaian dengan identitas visual kelembagaan menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam proses desain.

Komposisi dan tata letak turut menentukan keberhasilan suatu materi publikasi. Penempatan elemen yang seimbang, penggunaan ruang kosong atau white space, serta pengaturan jarak antarelemen dapat membantu desain terlihat lebih rapi dan profesional. Ruang kosong bukanlah bagian yang tidak berguna, melainkan elemen yang memberikan ruang bagi mata untuk beristirahat sekaligus membantu menonjolkan informasi yang paling penting.

Dalam pengembangan konten kelembagaan, penggunaan ilustrasi, foto, ikon, dan elemen grafis lainnya juga perlu disesuaikan dengan substansi pesan. Visual yang relevan dapat membantu memperjelas informasi, sedangkan elemen yang tidak memiliki hubungan langsung dengan materi justru berpotensi mengalihkan perhatian audiens. Oleh karena itu, kreativitas perlu berjalan seiring dengan kemampuan memilih elemen visual yang tepat, proporsional, dan memiliki tujuan komunikasi yang jelas.

Sebagai bagian dari perkembangan teknologi desain, pemanfaatan Canva dan berbagai fitur desain digital dapat mendukung proses produksi materi publikasi secara lebih praktis. Platform desain digital memungkinkan pengelola kehumasan menyusun berbagai kebutuhan konten, mulai dari poster, infografis, presentasi, hingga materi media sosial, dengan memanfaatkan templat dan elemen visual yang tersedia. Penggunaan perangkat tersebut dapat membantu mempercepat proses kerja sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan variasi format publikasi.

Meskipun demikian, penggunaan templat perlu disertai dengan penyesuaian terhadap kebutuhan informasi dan identitas lembaga. Templat sebaiknya dijadikan sebagai titik awal pengembangan desain, bukan sekadar digunakan tanpa memperhatikan karakter pesan yang akan disampaikan. Pengelola konten tetap perlu mengatur tata letak, menyesuaikan warna, memilih tipografi, menyederhanakan teks, dan memastikan bahwa seluruh elemen memiliki keterkaitan dengan tujuan publikasi.

Pemanfaatan teknologi desain juga perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman terhadap substansi informasi. Kemudahan penggunaan aplikasi tidak secara otomatis menjamin kualitas komunikasi. Sebuah materi publikasi tetap memerlukan perencanaan, penyusunan pesan, pemeriksaan data, proses penyuntingan, dan evaluasi sebelum dipublikasikan melalui kanal resmi lembaga.

Bagi Bawaslu, kemampuan mengembangkan desain kreatif memiliki keterkaitan langsung dengan upaya memperluas penyebarluasan informasi mengenai pengawasan Pemilu. Berbagai informasi mengenai pencegahan pelanggaran, pendidikan kepemiluan, pengawasan partisipatif, regulasi Pemilu, serta pelaksanaan tugas dan kewenangan kelembagaan dapat dikemas dalam bentuk visual yang lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat.

Informasi mengenai regulasi, misalnya, dapat disajikan melalui infografis yang merangkum pokok-pokok ketentuan, alur prosedur, atau poin penting yang perlu diketahui masyarakat. Sementara itu, materi edukasi mengenai pencegahan politik uang, netralitas aparatur, pengenalan potensi pelanggaran, serta tata cara penyampaian laporan atau informasi dugaan pelanggaran dapat dikembangkan menjadi konten visual yang sistematis dan komunikatif.

Penyajian informasi kepemiluan melalui desain visual yang baik diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh pemahaman awal secara lebih mudah. Informasi yang sebelumnya disampaikan dalam uraian panjang dapat diringkas menjadi poin-poin utama, bagan, ilustrasi, atau alur sederhana. Namun, penyederhanaan tersebut tetap harus memperhatikan ketepatan substansi agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru terhadap ketentuan hukum maupun kewenangan Bawaslu.

Dalam menjalankan fungsi komunikasi publik, Bawaslu juga perlu menjaga keseimbangan antara daya tarik konten dan akurasi informasi. Konten yang menarik dapat membantu meningkatkan perhatian masyarakat, tetapi kebenaran informasi tetap menjadi prioritas utama. Setiap data, kutipan peraturan, nama kegiatan, tanggal, angka, dan informasi kelembagaan yang dimuat dalam materi publikasi harus diperiksa sebelum disebarluaskan.

Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika informasi disampaikan dalam bentuk visual yang ringkas. Keterbatasan ruang dalam poster atau infografis sering kali mengharuskan penyusun konten memilih informasi yang paling relevan. Dalam proses tersebut, pengelola kehumasan perlu memastikan bahwa ringkasan yang disusun tidak mengubah makna, menghilangkan konteks penting, atau menimbulkan penafsiran berbeda dari substansi aslinya.

Selain ketepatan informasi, konsistensi identitas visual juga menjadi perhatian dalam pengelolaan publikasi Bawaslu. Penggunaan logo, warna kelembagaan, tipografi, tata letak, dan elemen pendukung perlu dilakukan secara proporsional agar publik dapat mengenali sumber informasi dengan mudah. Identitas visual yang konsisten dapat membantu membangun citra kelembagaan yang profesional, sekaligus membedakan publikasi resmi dari informasi yang tidak berasal dari kanal kelembagaan.

Dalam pengelolaan media sosial, desain kreatif juga perlu memperhatikan karakteristik setiap platform. Konten yang dipublikasikan harus disesuaikan dengan ukuran media, kebiasaan audiens, panjang pesan, serta tujuan komunikasi. Materi untuk media sosial dapat dirancang lebih ringkas dan visual, sedangkan informasi yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam dapat diarahkan ke berita pada situs web resmi atau sumber informasi kelembagaan yang relevan.

Strategi tersebut memungkinkan berbagai kanal komunikasi saling melengkapi. Media sosial dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk menarik perhatian masyarakat terhadap suatu isu, sementara situs web menyediakan informasi yang lebih lengkap mengenai kegiatan, kebijakan, regulasi, atau program kelembagaan. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, pesan yang disampaikan melalui berbagai kanal diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada publik.

Di samping itu, pengelola kehumasan perlu memahami pentingnya penyusunan pesan yang sesuai dengan karakteristik audiens. Informasi yang ditujukan kepada masyarakat umum perlu menggunakan bahasa yang jelas, lugas, dan tidak terlalu teknis. Sementara itu, publikasi yang berkaitan dengan regulasi atau prosedur hukum dapat tetap menggunakan istilah resmi dengan disertai penjelasan yang memudahkan pembaca memahami maknanya.

Penggunaan bahasa yang sederhana bukan berarti mengurangi kualitas informasi. Sebaliknya, bahasa yang jelas merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa informasi kelembagaan dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Hal ini sejalan dengan tujuan komunikasi publik, yaitu menghadirkan informasi yang bukan hanya tersedia, tetapi juga benar-benar dapat dimengerti oleh penerimanya.

Kegiatan Humas Upgrade Series #2: Desain Kreatif, Informasi Efektif juga menjadi momentum untuk memperkuat budaya kerja kreatif dan kolaboratif di lingkungan kehumasan Bawaslu. Pengelolaan publikasi yang berkualitas memerlukan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pengumpulan informasi, penulisan naskah, dokumentasi, pengolahan desain, pemeriksaan substansi, hingga proses distribusi melalui kanal komunikasi resmi.

Kolaborasi tersebut dapat membantu memastikan bahwa setiap produk publikasi memiliki kualitas yang baik dari sisi isi maupun tampilan. Penulis berita perlu memastikan ketepatan informasi dan alur narasi, sedangkan desainer bertugas menerjemahkan pesan ke dalam bentuk visual yang mudah dipahami. Pemeriksaan bersama sebelum publikasi juga diperlukan agar tidak terdapat kesalahan penulisan, penggunaan identitas visual yang tidak sesuai, atau informasi yang belum terverifikasi.

Lebih lanjut, pengembangan kreativitas perlu didukung oleh kemauan untuk terus belajar dan mengevaluasi hasil pekerjaan. Perkembangan tren desain, fitur aplikasi, dan pola konsumsi informasi masyarakat berlangsung secara dinamis. Karena itu, pengelola kehumasan perlu terbuka terhadap metode baru, mempelajari praktik desain yang relevan, serta menyesuaikan pendekatan komunikasi tanpa meninggalkan prinsip profesionalitas dan tanggung jawab kelembagaan.

Evaluasi terhadap konten yang telah dipublikasikan juga dapat menjadi dasar untuk meningkatkan efektivitas komunikasi. Pengelola kehumasan dapat menilai keterbacaan desain, kejelasan pesan, kesesuaian visual dengan substansi, jangkauan publikasi, serta respons audiens. Hasil evaluasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menentukan perbaikan pada konten berikutnya sehingga proses pengembangan publikasi berlangsung secara berkelanjutan.

Dalam konteks pengawasan Pemilu, publikasi yang kreatif dan informatif bukan hanya berfungsi sebagai sarana dokumentasi kegiatan, melainkan juga sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Konten yang disusun dengan baik dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga integritas demokrasi, mencegah pelanggaran, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengawasan partisipatif.

Pengawasan partisipatif membutuhkan dukungan masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai hak, kewajiban, serta peran mereka dalam menjaga proses demokrasi. Melalui penyebarluasan informasi yang mudah diakses dan dipahami, Bawaslu dapat terus membangun ruang komunikasi dengan masyarakat sekaligus memperluas jangkauan edukasi kepemiluan, termasuk pada masa non-tahapan Pemilu.

Pada masa non-tahapan, pengelolaan konten tetap memiliki arti penting untuk menjaga kesinambungan informasi kelembagaan. Berbagai kegiatan pencegahan, penguatan kapasitas, sosialisasi regulasi, pengawasan data pemilih, dan pendidikan politik masyarakat dapat disajikan melalui beragam format publikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan audiens. Dengan demikian, komunikasi kelembagaan tetap berjalan secara konsisten dan memberikan manfaat edukatif bagi masyarakat.

Bagi jajaran kehumasan Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah, materi dalam kegiatan ini dapat menjadi referensi untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan berita dan konten media sosial. Pengembangan desain poster edukasi, infografis regulasi, dokumentasi kegiatan, serta materi sosialisasi kepemiluan dapat dilakukan dengan memperhatikan prinsip keterbacaan, kesederhanaan, konsistensi identitas visual, dan ketepatan informasi.

Penerapan hasil pembelajaran tersebut diharapkan dapat mendukung penyajian informasi yang lebih profesional dan menarik, tanpa mengesampingkan standar publikasi kelembagaan. Setiap konten yang dihasilkan perlu memiliki pesan yang jelas, menggunakan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta disesuaikan dengan karakteristik media yang digunakan.

Melalui kegiatan Humas Upgrade Series #2, Bawaslu mendorong penguatan kompetensi pengelola kehumasan agar semakin siap menghadapi tantangan komunikasi di era digital. Kehadiran Syammas P. Syarbini sebagai pemateri memberikan perspektif mengenai pentingnya desain kreatif sebagai bagian dari strategi komunikasi, sekaligus memperkuat pemahaman bahwa efektivitas informasi ditentukan oleh keterpaduan antara substansi, visual, bahasa, dan media penyampaian.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Pengelola kehumasan perlu terus mengembangkan gagasan, meningkatkan keterampilan desain, memperkuat koordinasi antarpengelola konten, serta menjaga kualitas informasi yang dipublikasikan melalui kanal resmi Bawaslu.

Pada akhirnya, desain kreatif dan informasi efektif merupakan dua unsur yang saling melengkapi dalam membangun komunikasi publik yang berkualitas. Kreativitas visual membantu menarik perhatian masyarakat, sedangkan akurasi, kejelasan bahasa, dan ketepatan substansi memastikan pesan dapat diterima secara benar. Keseimbangan kedua aspek tersebut menjadi dasar penting dalam menghadirkan publikasi kelembagaan yang informatif, edukatif, dan bertanggung jawab.

Dengan terselenggaranya Humas Upgrade Series #2: Desain Kreatif, Informasi Efektif, Bawaslu diharapkan semakin mampu mengembangkan strategi komunikasi publik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Melalui penguatan kompetensi, inovasi desain, serta pengelolaan informasi yang profesional, jajaran kehumasan Bawaslu dapat terus berkontribusi dalam memperluas keterbukaan informasi, meningkatkan literasi kepemiluan, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam mengawal Pemilu yang berintegritas.

r

 

r

 

r

 

r

Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah

Penulis dan Editor: 1T