Lompat ke isi utama

Berita

HARI AKSARA INTERNASIONAL 2026, HERU SANDO DORONG LITERASI UNTUK MEMBANGUN SDM UNGGUL

R

Heru Sando Ajak Tingkatkan Budaya Literasi pada Hari Aksara Internasional 2026

Lampung Tengah – Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Diklat (SDMO dan Diklat) Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah, Heru Sando, menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Aksara Internasional Tahun 2026 yang diperingati setiap tanggal 8 September.

Peringatan Hari Aksara Internasional menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran bersama mengenai arti penting literasi dalam kehidupan manusia. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi informasi, literasi tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan dasar membaca dan menulis, tetapi telah berkembang menjadi kemampuan memahami, mengolah, menganalisis, dan menggunakan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.

Hari Aksara Internasional Tahun 2026 mengusung tema “Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran”. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa literasi memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membangun kepedulian terhadap lingkungan, serta mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan berkemajuan.

Dalam momentum tersebut, Heru Sando mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, budaya literasi perlu terus dikembangkan karena menjadi salah satu fondasi dalam membangun sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, serta mampu beradaptasi dengan perubahan.

“Selamat Hari Aksara Internasional Tahun 2026. Mari kita tingkatkan budaya literasi sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang unggul, cerdas, kritis, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan,” ujar Heru Sando.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan literasi memiliki keterkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia. Seseorang yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah memperoleh pengetahuan, memahami berbagai persoalan, mengembangkan keterampilan, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat.

Dalam lingkungan pekerjaan, literasi juga menjadi bagian penting dalam mendukung profesionalisme. Setiap pegawai dituntut untuk mampu memahami regulasi, membaca berbagai dokumen, mengolah data, mengikuti perkembangan kebijakan, serta menyampaikan informasi secara jelas dan akurat.

Menurut Heru Sando, peningkatan kompetensi sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari budaya belajar. Literasi mendorong seseorang untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan sesuai dengan tuntutan pekerjaan maupun perkembangan lingkungan strategis.

Sebagai Koordinator Divisi SDMO dan Diklat, ia menilai bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas kelembagaan Bawaslu. Sumber daya manusia yang kompeten, berintegritas, adaptif, dan memiliki wawasan luas akan mampu melaksanakan tugas secara lebih profesional.

“Budaya literasi harus menjadi bagian dari budaya kerja. Dengan membaca dan terus belajar, kita dapat meningkatkan pengetahuan, memahami aturan dengan lebih baik, serta meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Heru Sando juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Saat ini, informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat melalui berbagai platform digital. Kondisi tersebut memberikan banyak peluang untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi pada saat yang sama juga menuntut masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi.

Kemampuan literasi digital menjadi semakin penting karena tidak semua informasi yang beredar di ruang digital dapat dipercaya begitu saja. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengenali sumber informasi, memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, serta membandingkannya dengan sumber lain yang kredibel.

Ia mengajak masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terlebih informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan, kesalahpahaman, maupun konflik di tengah masyarakat.

“Di tengah derasnya arus informasi, kita harus menjadi pembaca yang cerdas. Jangan hanya cepat menerima dan menyebarkan informasi, tetapi biasakan untuk memeriksa sumber dan kebenarannya terlebih dahulu,” jelas Heru.

Menurutnya, budaya literasi juga memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan demokrasi. Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik akan lebih mampu menggunakan hak politiknya secara bertanggung jawab serta berpartisipasi dalam proses demokrasi dengan berdasarkan informasi yang benar.

Dalam konteks kepemiluan, literasi dapat membantu masyarakat memahami berbagai tahapan pemilu, hak dan kewajiban sebagai pemilih, aturan yang berlaku, serta pentingnya menjaga integritas proses demokrasi. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pengawasan pemilu.

Heru Sando menilai bahwa pengawasan pemilu membutuhkan dukungan masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesadaran. Masyarakat yang memahami kepemiluan akan lebih mudah mengenali potensi pelanggaran serta mengetahui langkah yang tepat ketika menemukan dugaan pelanggaran.

Dengan demikian, peningkatan literasi juga dapat menjadi bagian dari penguatan pengawasan partisipatif. Bawaslu dan masyarakat dapat membangun kerja sama dalam menciptakan proses demokrasi yang lebih transparan, berintegritas, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain literasi kepemiluan dan digital, Heru Sando juga mengajak masyarakat untuk memperkuat berbagai bentuk literasi lainnya, seperti literasi informasi, literasi finansial, literasi lingkungan, serta literasi sosial. Berbagai jenis literasi tersebut dibutuhkan agar masyarakat mampu menghadapi persoalan kehidupan secara lebih komprehensif.

Tema “Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran” menurutnya memiliki pesan yang sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Literasi untuk manusia berarti bagaimana pengetahuan dapat meningkatkan kualitas individu dan masyarakat. Literasi untuk bumi berarti bagaimana pengetahuan mampu membangun kepedulian terhadap lingkungan. Sedangkan literasi untuk kemakmuran berarti bagaimana pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan.

Heru Sando juga menekankan pentingnya membangun budaya literasi di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun tempat kerja. Menurutnya, budaya membaca dan belajar tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan formal. Membaca buku, mengikuti pelatihan, berdiskusi, bertukar gagasan, membaca regulasi, mengikuti perkembangan informasi, maupun memanfaatkan sumber pembelajaran digital merupakan bagian dari proses peningkatan literasi.

Dalam lingkungan Bawaslu Lampung Tengah, semangat literasi dapat diwujudkan melalui peningkatan kapasitas jajaran, penguatan pemahaman terhadap regulasi kepemiluan, pengembangan kompetensi, serta pemanfaatan teknologi sebagai sarana pembelajaran.

Heru Sando berharap seluruh jajaran Bawaslu Lampung Tengah dapat terus meningkatkan kemampuan dan kompetensinya. Perubahan regulasi dan perkembangan teknologi menuntut aparatur untuk memiliki kemampuan adaptasi yang baik sehingga tugas-tugas kelembagaan dapat dilaksanakan secara efektif dan profesional.

“Belajar tidak mengenal batas usia dan waktu. Selama kita mau membaca, belajar, dan membuka diri terhadap pengetahuan baru, maka kemampuan kita akan terus berkembang,” tuturnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadi bagian penting dalam gerakan literasi. Generasi muda memiliki akses yang luas terhadap teknologi dan informasi sehingga memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam membangun budaya literasi di masyarakat.

Pemanfaatan media sosial, menurutnya, dapat diarahkan untuk menyebarkan informasi yang edukatif dan memberikan manfaat. Media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran, berbagi pengetahuan, dan membangun kesadaran publik.

Heru Sando menambahkan bahwa literasi juga dapat membantu membangun karakter masyarakat yang lebih terbuka, toleran, dan mampu menghargai perbedaan. Pengetahuan yang cukup dapat membantu seseorang memahami sudut pandang yang berbeda serta menyikapi perbedaan secara lebih dewasa.

Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola melalui komunikasi yang sehat, berdasarkan fakta, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Karena itu, ia berharap Hari Aksara Internasional tidak hanya diperingati sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun masyarakat pembelajar.

“Mari menjadikan literasi sebagai kebiasaan, bukan sekadar peringatan. Membaca untuk mengetahui, belajar untuk memahami, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi sesama,” pungkas Heru Sando.

Peringatan Hari Aksara Internasional Tahun 2026 menjadi pengingat bahwa kualitas manusia sangat dipengaruhi oleh kemampuan dalam memperoleh, memahami, dan memanfaatkan pengetahuan. Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, masyarakat yang memiliki budaya literasi yang kuat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang yang tersedia.

Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari upaya memperkuat kelembagaan dan kualitas pengawasan pemilu. Semangat literasi menjadi salah satu modal penting untuk menciptakan jajaran yang profesional, berintegritas, adaptif, dan mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Melalui momentum Hari Aksara Internasional 2026, Heru Sando mengajak seluruh masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat membaca, belajar, berdiskusi, berpikir kritis, serta menggunakan informasi secara bijak.

Selamat Hari Aksara Internasional Tahun 2026.

“Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran.”

Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah

Penulis dan Editor: 1T