KPU LAMPUNG TEKANKAN PENTINGNYA KEGIATAN NON-TAHAPAN MELALUI BEDAH BUKU REKAPITULASI PENGHITUNGAN SUARA
|
Lampung Tengah — Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung, Febri Indra Kurniawan, S.H., menyampaikan opening speech dalam kegiatan Bedah Buku “Hak Konstitusi Dilayani dan Dilindungi: Pilkada Serentak 2020 Era Pandemi Covid-19” dengan tema “Rekapitulasi Penghitungan Suara” yang diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Tulang Bawang Barat secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu, 16 September 2026.
Dalam sambutannya, Febri mengawali dengan ungkapan rasa syukur karena seluruh peserta masih dapat bertemu dan berinteraksi dalam sebuah forum pembelajaran, meskipun pertemuan tersebut dilaksanakan secara virtual. Menurutnya, perkembangan teknologi memungkinkan proses komunikasi dan peningkatan kapasitas kelembagaan tetap berjalan meski tidak dilakukan secara tatap muka langsung.
“Bersyukur kita masih bertatap muka, meski via Zoom. Mudah-mudahan acara ini lancar dari series 1 hingga series-series selanjutnya,” ujar Febri dalam opening speech-nya.
Febri berharap kegiatan bedah buku yang dilaksanakan tersebut dapat berlangsung dengan lancar dan tidak berhenti pada pelaksanaan seri pertama saja. Ia mendorong agar kegiatan-kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari proses peningkatan kapasitas dan penguatan pengetahuan bagi jajaran penyelenggara pemilu.
Menurutnya, meskipun saat ini kegiatan pemilu berada di luar tahapan, berbagai aktivitas kelembagaan tetap perlu dilaksanakan. Kegiatan non-tahapan memiliki peran penting dalam menjaga kesiapan penyelenggara, terutama melalui kegiatan yang berorientasi pada pengembangan wawasan, peningkatan kompetensi, serta pengayaan pengetahuan yang dapat mendukung pelaksanaan tugas di masa mendatang.
“Kegiatan-kegiatan di non-tahapan harus tetap terus berlangsung. Kegiatan-kegiatan yang berorientasi untuk memperkaya ilmiah kita, salah satunya acara bedah buku ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Febri menilai bahwa kegiatan bedah buku merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat memberikan ruang bagi penyelenggara pemilu untuk memperkaya pengetahuan secara akademis maupun praktis. Melalui pembacaan dan pembahasan terhadap sebuah buku, peserta tidak hanya memperoleh informasi dari isi buku, tetapi juga dapat bertukar pandangan, mendiskusikan pengalaman, serta mengaitkannya dengan tugas dan tanggung jawab penyelenggara pemilu.
Dalam konteks kegiatan yang mengangkat tema “Rekapitulasi Penghitungan Suara”, Febri menekankan pentingnya pemahaman terhadap regulasi yang menjadi landasan dalam pelaksanaan tahapan tersebut. Salah satu regulasi yang menjadi rujukan adalah Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 5 Tahun 2024 yang mengatur mengenai rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan penetapan hasil pemilihan umum.
Pemahaman terhadap regulasi, menurutnya, menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas teknis penyelenggaraan pemilu. Penyelenggara perlu terus memperbarui dan memperdalam pengetahuan terhadap aturan agar setiap pelaksanaan tugas dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pembahasan mengenai rekapitulasi penghitungan suara juga memiliki posisi penting dalam keseluruhan proses penyelenggaraan pemilu. Tahapan tersebut membutuhkan ketelitian, kecermatan, serta pemahaman yang baik terhadap prosedur dan mekanisme yang telah ditetapkan dalam regulasi.
Oleh karena itu, kegiatan bedah buku diharapkan dapat menjadi forum yang tidak hanya memberikan pemahaman secara konseptual, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai pengalaman penyelenggaraan pemilu, berbagai tantangan teknis, serta pembelajaran yang dapat diterapkan dalam penyelenggaraan pemilu berikutnya.
Febri juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga budaya belajar di lingkungan penyelenggara pemilu. Menurutnya, proses peningkatan kapasitas tidak harus menunggu dimulainya tahapan pemilu. Justru masa non-tahapan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapan sumber daya manusia dan kelembagaan melalui berbagai kegiatan edukatif.
Kegiatan seperti bedah buku juga dapat menjadi sarana untuk membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, dan melakukan refleksi terhadap pengalaman penyelenggaraan pemilu sebelumnya. Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai sumber diharapkan dapat menjadi bekal bagi penyelenggara dalam menghadapi dinamika dan kompleksitas tugas kepemiluan.
Dalam kesempatan tersebut, Febri berharap Bedah Buku Seri 1 dapat menjadi awal dari rangkaian kegiatan ilmiah yang berkelanjutan. Ia mendorong agar seri-seri berikutnya dapat terus dilaksanakan dengan mengangkat berbagai tema yang relevan dengan kebutuhan penyelenggara pemilu, baik dari aspek teknis penyelenggaraan, regulasi, kelembagaan, maupun pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya menyimak materi yang disampaikan, peserta diharapkan dapat aktif dalam diskusi sehingga kegiatan benar-benar menghasilkan pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat.
Dengan terselenggaranya kegiatan bedah buku secara daring, proses penguatan kapasitas penyelenggara tetap dapat dilakukan secara efektif. Pemanfaatan teknologi melalui Zoom Meeting juga menjadi bagian dari adaptasi kelembagaan dalam menjalankan kegiatan pengembangan pengetahuan dan koordinasi tanpa harus selalu dilakukan secara langsung.
Melalui opening speech tersebut, Febri menegaskan pentingnya menjaga semangat belajar dan memperkaya pengetahuan secara berkelanjutan. Kegiatan non-tahapan tidak semata-mata menjadi aktivitas kelembagaan, tetapi dapat diarahkan menjadi ruang pengembangan kapasitas yang mendukung kesiapan penyelenggara dalam menghadapi tahapan pemilu maupun pemilihan selanjutnya.
Bedah buku dengan tema “Rekapitulasi Penghitungan Suara” diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses rekapitulasi, sekaligus menjadi ruang refleksi atas pengalaman penyelenggaraan pemilu sebelumnya. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh melalui forum tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan kualitas penyelenggaraan pemilu yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Febri menutup opening speech-nya dengan harapan agar kegiatan Bedah Buku Seri 1 dapat berjalan dengan lancar dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pembelajaran yang terus berlanjut dari satu seri ke seri berikutnya. Semangat untuk terus belajar, berdiskusi, dan memperkaya pengetahuan diharapkan dapat menjadi bagian dari budaya kerja penyelenggara pemilu, termasuk pada masa non-tahapan.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T