NGABUBURIT PENGAWASAN EDISI KE-9, BAWASLU LAMPUNG TENGAH PERKUAT SPIRIT KEADILAN PEMILU
|
Lampung Tengah — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi dan pengawasan pemilu dengan mengikuti kegiatan Ngabuburit Pengawasan 2026 edisi ke-9 yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 6 Maret 2026 pukul 16.00 WIB dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Bawaslu RI.
Kegiatan Ngabuburit Pengawasan yang rutin digelar selama bulan Ramadan ini menjadi ruang refleksi, diskusi, sekaligus penguatan nilai spiritual bagi jajaran pengawas pemilu di seluruh Indonesia. Bawaslu Lampung Tengah mengikuti kegiatan ini secara daring bersama jajaran pengawas lainnya, menjelang waktu berbuka puasa, dengan suasana yang khidmat dan penuh makna.
Pada edisi ke-9 ini, kultum disampaikan langsung oleh Totok Hariyono, Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia, yang mengangkat tema “Refleksi Hukum dan Keadilan Pemilu.” Dalam tausiyahnya, Totok mengajak seluruh insan pengawas pemilu untuk menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum memperkuat integritas, keberanian, serta komitmen dalam menegakkan hukum dan keadilan pemilu.
Mengawali kultumnya dengan ucapan salam dan ajakan refleksi, Totok menekankan bahwa keadilan tidak semata-mata soal aturan hukum, melainkan juga keberanian moral untuk menegakkan kebenaran di tengah berbagai tekanan.
“Demokrasi yang kuat lahir dari pengawasan yang kuat dan hukum yang ditegakkan dengan adil. Karena itu, berbicara tentang pengawasan pemilu tidak bisa dilepaskan dari nilai keadilan yang harus selalu kita pegang teguh,” ujarnya.
Dalam ceramahnya, Totok mengisahkan sebuah peristiwa teladan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW setelah melaksanakan Haji Wada’. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa jika selama hidupnya pernah melakukan kesalahan atau menzalimi seseorang, maka beliau mempersilakan untuk membalasnya saat itu juga. Hal tersebut menunjukkan betapa besar komitmen Rasulullah terhadap keadilan, bahkan terhadap dirinya sendiri.
Kisah tersebut kemudian berlanjut ketika seorang sahabat bernama Sawat bin Gaziah berdiri dan menyampaikan bahwa dirinya pernah terkena tongkat Rasulullah secara tidak sengaja saat persiapan perang. Mendengar hal itu, Rasulullah tidak membantah ataupun menghindar, melainkan justru meminta sahabatnya mengambil tongkat dan mempersilakan Sawat membalasnya dengan cara yang sama.
Namun peristiwa tersebut justru berakhir dengan penuh haru ketika Sawat memeluk Rasulullah sebagai bentuk kecintaannya. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin membalas, melainkan hanya ingin merasakan kedekatan dengan Rasulullah. Kisah tersebut menjadi pelajaran penting bahwa bahkan seorang pemimpin yang mulia sekalipun tetap membuka ruang keadilan bagi siapa saja yang merasa haknya terlanggar.
Totok menegaskan bahwa nilai-nilai keadilan yang dicontohkan oleh Rasulullah tersebut dapat menjadi spirit bagi para pengawas pemilu dalam menjalankan tugasnya.
“Jika Rasulullah yang telah diampuni segala dosanya masih memberikan ruang keadilan kepada orang lain, maka kita sebagai manusia biasa tentu harus lebih berani menegakkan keadilan. Spirit inilah yang harus kita jadikan landasan dalam mengawal demokrasi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Totok juga mengingatkan bahwa tugas pengawasan tidak berhenti pada saat tahapan pemilu berlangsung. Justru pada masa non-tahapan pemilu, para pengawas dituntut untuk tetap aktif melakukan berbagai upaya penguatan demokrasi, termasuk sosialisasi, edukasi, serta konsolidasi kelembagaan.
Menurutnya, masa non-tahapan sering kali dianggap sebagai masa yang relatif tenang. Namun sebenarnya periode ini justru menjadi ruang strategis untuk membangun fondasi demokrasi yang lebih kuat.
Dalam refleksinya, Totok juga menyampaikan bahwa terdapat beberapa ancaman yang dapat melemahkan keadilan pemilu, di antaranya adalah praktik oligarki, kecenderungan otoritarianisme, serta persoalan netralitas aparatur negara. Ketiga hal tersebut, menurutnya, harus terus menjadi perhatian bersama agar kualitas demokrasi Indonesia dapat terus terjaga.
“Sebagai pengawas pemilu, kita memiliki kewajiban moral untuk terus mengingatkan masyarakat tentang potensi ancaman terhadap demokrasi. Kita harus memastikan bahwa pemilu berjalan secara adil, jujur, dan bermartabat,” jelasnya.
Selain itu, Totok juga mengajak seluruh jajaran pengawas pemilu untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan semangat kerja, refleksi diri, serta memperkuat konsolidasi demokrasi.
Ia kemudian menyinggung sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang juga memiliki keterkaitan dengan bulan Ramadan. Salah satunya adalah peristiwa menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ketika para pemuda dengan penuh keberanian mendesak Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Totok menjelaskan bahwa semangat para pemuda pada masa itu menunjukkan bagaimana keberanian dan rasa keadilan dapat menjadi kekuatan besar dalam memperjuangkan masa depan bangsa. Bahkan naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik pada saat sahur, sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, semangat tersebut patut menjadi inspirasi bagi para pengawas pemilu saat ini untuk terus memperjuangkan demokrasi yang lebih baik.
“Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan. Justru di bulan ini kita harus memaksimalkan waktu untuk refleksi, berdiskusi, dan bekerja demi memperkuat demokrasi. Semangat perjuangan harus terus kita jaga,” katanya.
Di akhir kultumnya, Totok mengajak seluruh jajaran pengawas pemilu di seluruh Indonesia untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum konsolidasi demokrasi, sekaligus memperkuat komitmen dalam menjaga integritas pengawasan pemilu.
Kegiatan Ngabuburit Pengawasan ini pun diharapkan tidak hanya menjadi sarana menunggu waktu berbuka puasa, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai-nilai moral, integritas, serta semangat perjuangan dalam menjaga demokrasi Indonesia.
Dengan mengikuti kegiatan tersebut, Bawaslu Lampung Tengah menegaskan komitmennya untuk terus aktif berpartisipasi dalam setiap forum penguatan kapasitas dan refleksi kelembagaan, guna mewujudkan sistem pengawasan pemilu yang semakin profesional, berintegritas, dan berkeadilan.
Menjelang waktu berbuka puasa, kegiatan Ngabuburit Pengawasan edisi ke-9 ini ditutup dengan pesan inspiratif yang menegaskan bahwa perjuangan menjaga demokrasi adalah tanggung jawab bersama.
Karena demokrasi yang kuat lahir dari pengawasan yang kuat dan hukum yang ditegakkan dengan adil. Semangat Ramadan diharapkan mampu memperkuat tekad seluruh insan pengawas pemilu untuk terus berjuang demi terwujudnya demokrasi Indonesia yang lebih bermartabat.
“Selamat berjuang, selamat beribadah. Semoga Tuhan Yang Maha Esa merahmati dan mengabulkan harapan kita untuk Indonesia yang lebih baik.” tutup Totok.
Salam perjuangan. Merdeka, merdeka, merdeka.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T