Lompat ke isi utama

Berita

HARI AKSARA INTERNASIONAL 2026, LUKITO HADI SUMARTO DORONG BUDAYA LITERASI UNTUK KEMAJUAN BANGSA

R

Koordinator Sekretariat Bawaslu Lampung Tengah Lukito Hadi Sumarto Ajak Masyarakat Perkuat Budaya Literasi

Lampung Tengah – Koordinator Sekretariat Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah, Lukito Hadi Sumarto, menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Aksara Internasional Tahun 2026 yang diperingati setiap tanggal 8 September. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk kembali meningkatkan kesadaran bersama mengenai pentingnya literasi sebagai salah satu fondasi dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas, berpengetahuan, kritis, dan mampu menghadapi berbagai tantangan perkembangan zaman.

Hari Aksara Internasional 2026 mengusung tema “Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran”. Tema tersebut mengandung pesan bahwa literasi memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam memahami informasi, mengembangkan pengetahuan, berpikir kritis, berkomunikasi, mengambil keputusan, serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan.

Dalam momentum tersebut, Lukito Hadi Sumarto menyampaikan bahwa budaya literasi perlu terus ditumbuhkan di tengah masyarakat. Menurutnya, kemampuan literasi yang baik akan membantu masyarakat dalam memahami berbagai persoalan secara lebih objektif serta mendorong setiap individu untuk tidak mudah menerima informasi tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenaran dan sumbernya.

“Selamat Hari Aksara Internasional Tahun 2026. Mari kita jadikan momentum ini untuk terus meningkatkan budaya literasi, memperluas pengetahuan, dan membangun kebiasaan berpikir kritis demi terciptanya masyarakat yang cerdas, maju, dan sejahtera,” ujar Lukito Hadi Sumarto.

Ia menilai bahwa kemajuan teknologi informasi telah memberikan kemudahan yang luar biasa bagi masyarakat dalam memperoleh berbagai informasi. Hanya dengan menggunakan perangkat digital, masyarakat dapat mengakses beragam pengetahuan dalam waktu yang relatif singkat. Namun, kemudahan tersebut juga harus diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai agar masyarakat mampu membedakan informasi yang benar, informasi yang keliru, maupun informasi yang sengaja dibuat untuk memengaruhi atau menyesatkan.

Menurut Lukito, literasi digital menjadi salah satu kebutuhan penting pada era perkembangan teknologi saat ini. Masyarakat harus mampu menggunakan teknologi secara cerdas, bijak, dan bertanggung jawab. Tidak hanya menjadi konsumen informasi, masyarakat juga diharapkan mampu menjadi bagian dari ekosistem informasi yang sehat dengan tidak menyebarkan berita yang belum terverifikasi.

Kecakapan dalam membaca dan memahami informasi, lanjutnya, juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan demokrasi. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi yang baik akan lebih mudah memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, memahami berbagai kebijakan publik, serta berpartisipasi dalam proses demokrasi secara lebih bertanggung jawab.

Dalam penyelenggaraan pemilu, literasi menjadi salah satu unsur penting dalam mendorong partisipasi masyarakat. Pemahaman yang baik mengenai kepemiluan dapat membantu masyarakat mengetahui tahapan pemilu, memahami aturan yang berlaku, mengenali potensi pelanggaran, serta mengetahui saluran yang tepat untuk menyampaikan informasi maupun laporan kepada lembaga yang berwenang.

Lukito Hadi Sumarto juga menekankan bahwa literasi dan pengawasan partisipatif memiliki hubungan yang erat. Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup akan lebih mampu menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap proses demokrasi. Dengan demikian, masyarakat bukan hanya menjadi pemilih, tetapi juga dapat berperan aktif dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pemilu.

“Literasi yang baik akan membantu masyarakat memahami informasi secara utuh. Dalam konteks demokrasi, masyarakat yang memiliki pengetahuan akan lebih mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab dan turut menjaga proses pemilu agar berjalan sesuai dengan ketentuan,” jelasnya.

Ia juga mengajak jajaran Bawaslu Lampung Tengah untuk terus membangun kebiasaan membaca, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan dalam mengelola serta memahami informasi. Menurutnya, lingkungan kerja yang memiliki budaya literasi akan mendukung terciptanya sumber daya manusia yang adaptif, profesional, dan mampu melaksanakan tugas secara lebih efektif.

Di lingkungan kelembagaan Bawaslu, literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca berbagai regulasi, tetapi juga mencakup kemampuan memahami aturan, mengolah data, menyusun informasi, mendokumentasikan kegiatan, serta menyampaikan informasi kepada publik secara akurat dan mudah dipahami.

Sebagai bagian dari lembaga yang memiliki tugas dalam pengawasan pemilu, setiap jajaran Bawaslu dituntut untuk memiliki kemampuan memahami berbagai perkembangan regulasi dan isu kepemiluan. Hal tersebut menjadi penting agar pelaksanaan tugas dan fungsi kelembagaan dapat berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Lukito juga mengingatkan bahwa budaya literasi sebaiknya dibangun sejak dari lingkungan keluarga dan terus dikembangkan di lingkungan pendidikan, tempat kerja, maupun masyarakat. Membaca buku, mengikuti perkembangan informasi, berdiskusi, bertukar gagasan, dan melakukan verifikasi terhadap informasi merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Tema “Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran” juga menjadi pengingat bahwa pengetahuan harus memberikan manfaat yang nyata. Literasi untuk manusia berarti meningkatkan kualitas dan kapasitas individu. Literasi untuk bumi berarti membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Sementara literasi untuk kemakmuran berarti menjadikan pengetahuan sebagai modal untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan.

Menurut Lukito, masyarakat yang memiliki kemampuan literasi yang kuat akan lebih siap menghadapi perubahan. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, tantangan ekonomi, hingga berbagai persoalan lingkungan membutuhkan masyarakat yang mampu memahami informasi dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang benar.

Ia berharap momentum Hari Aksara Internasional tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan belajar sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Semangat belajar sepanjang hayat perlu terus dipupuk agar masyarakat mampu mengikuti perubahan dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan.

“Mari menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan membaca, memahami, dan berpikir kritis, kita dapat mengambil keputusan yang lebih baik serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, masyarakat, dan bangsa,” ungkap Lukito.

Lebih lanjut, Lukito menyampaikan bahwa peningkatan budaya literasi juga dapat menjadi salah satu upaya untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat. Perbedaan pandangan dan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, namun perbedaan tersebut perlu disikapi dengan pengetahuan, kedewasaan, dan kemampuan memahami informasi secara objektif.

Di era media sosial, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai macam informasi yang dapat menyebar dengan sangat cepat. Karena itu, kemampuan untuk melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi menjadi bagian penting dari kecakapan literasi. Sikap berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga ruang publik yang sehat.

Bawaslu Lampung Tengah terus mendorong terciptanya masyarakat yang sadar akan pentingnya informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Semangat tersebut sejalan dengan upaya memperkuat pengawasan partisipatif, di mana masyarakat diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam menjaga kualitas demokrasi dan mencegah terjadinya berbagai potensi pelanggaran pemilu.

Melalui peringatan Hari Aksara Internasional Tahun 2026, Lukito Hadi Sumarto mengajak seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, memperkuat literasi digital, serta membangun kebiasaan berpikir kritis. Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam menggunakan informasi secara bijak.

Peringatan Hari Aksara Internasional pada akhirnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali bahwa literasi merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga negara, organisasi masyarakat, komunitas, keluarga, serta setiap individu memiliki peran dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Selamat Hari Aksara Internasional Tahun 2026.

“Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran.”

Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah

Penulis dan Editor: 1T