IKUTI NGABUBURIT PENGAWASAN 2026, BAWASLU LAMPUNG TENGAH TEGUHKAN KOMITMEN TATA KELOLA BERINTEGRITAS
|
Lampung Tengah — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas kelembagaan dengan mengikuti kegiatan “Ngabuburit Pengawasan 2026” episode 1 yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia pada Selasa, 24 Februari 2026 pukul 16.00 WIB dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Bawaslu RI.
Kegiatan edisi perdana ini menghadirkan kultum inspiratif dari Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, dengan mengangkat tema “Refleksi Tata Kelola Kelembagaan Pengawas Pemilu”. Momentum ini menjadi ruang refleksi yang sarat makna, khususnya di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, di mana semangat spiritualitas berpadu dengan penguatan integritas kelembagaan.
Bagi Bawaslu Lampung Tengah, momen ini tidak sekadar menunggu waktu berbuka puasa, tetapi menjadi kesempatan untuk memperdalam makna pengawasan. “Menunggu berbuka, sambil menambah makna,” menjadi semangat yang dihidupi jajaran pengawas pemilu di daerah tersebut. Mereka menyadari bahwa dari tata kelola yang kuat, akan lahir pengawasan yang berintegritas.
Dalam kultumnya, Rahmat Bagja membuka dengan salam hangat kepada seluruh jajaran Bawaslu di Indonesia.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah bagi sahabat-sahabat Bawaslu yang beragama Islam,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa demokrasi bukan hanya tentang hari pemungutan suara, melainkan tentang proses panjang yang dibangun di atas kepercayaan. Kepercayaan bahwa setiap suara rakyat dihormati, dijaga, dan dihitung secara adil. Dalam konteks tersebut, Bawaslu memikul amanah konstitusi untuk menjaga integritas seluruh proses penyelenggaraan pemilu.
Menurutnya, tugas Bawaslu tidak sekadar memastikan tahapan berjalan sesuai aturan, tetapi juga memastikan demokrasi tetap bermartabat, jujur, dan adil. Tantangan pengawasan kini semakin kompleks. Kampanye tidak lagi hanya berlangsung di ruang fisik, tetapi juga merambah ruang digital. Arus informasi bergerak begitu cepat, menghadirkan tantangan baru seperti politik uang, disinformasi, serta polarisasi sosial yang semakin nyata.
Dalam situasi demikian, pengawasan tidak dapat lagi dilakukan dengan cara-cara lama. Bawaslu harus adaptif, responsif, dan berbasis pada sistem yang kuat. Oleh karena itu, tata kelola kelembagaan menjadi fondasi utama dalam menjawab tantangan zaman.
Rahmat Bagja menekankan bahwa tata kelola yang baik berarti sistem yang transparan, akuntabel, dan konsisten. Setiap laporan masyarakat harus ditangani dengan prosedur yang jelas dan tepat. Setiap keputusan harus memiliki dasar hukum yang kuat. Setiap tindakan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Ia juga menjelaskan pentingnya pendekatan pencegahan melalui pemetaan indeks kerawanan serta deteksi dini terhadap potensi pelanggaran. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas agar pelanggaran dapat diminimalkan sebelum terjadi. Namun, ketika pelanggaran muncul, Bawaslu harus tegas dan profesional dalam menanganinya, tanpa ruang bagi keberpihakan.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa reformasi kelembagaan bukan hanya soal sistem dan regulasi, tetapi juga soal integritas sumber daya manusia. “Kita semua adalah Bawaslu,” tegasnya. Netralitas adalah kewajiban, profesionalisme adalah standar, dan kepercayaan publik bergantung pada sikap serta tindakan seluruh jajaran pengawas pemilu.
Di balik regulasi dan prosedur, terdapat dimensi kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan. Setiap laporan masyarakat adalah bentuk harapan. Oleh sebab itu, harapan tersebut tidak boleh dikhianati. Setiap pengawasan di lapangan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara. Demokrasi bukan sekadar angka statistik, melainkan rasa keadilan yang benar-benar dirasakan oleh warga negara.
Bawaslu Lampung Tengah memaknai refleksi ini sebagai pengingat bahwa tugas pengawasan belum selesai. Tantangan ke depan akan semakin besar, namun dengan tata kelola yang kuat, kolaborasi yang baik bersama masyarakat, serta komitmen integritas yang konsisten, pengawasan demokrasi diyakini dapat terus terjaga.
Kegiatan Ngabuburit Pengawasan 2026 edisi pertama ini pun menjadi ruang spiritual sekaligus intelektual bagi jajaran Bawaslu Lampung Tengah untuk memperkuat semangat pengabdian. Dalam suasana Ramadan yang penuh keberkahan, nilai-nilai transparansi, akuntabilitas, dan netralitas kembali diteguhkan sebagai prinsip utama dalam menjalankan amanah konstitusi.
Menutup kultumnya, Rahmat Bagja menyampaikan harapan agar seluruh jajaran pengawas pemilu senantiasa diberikan bimbingan dalam menjaga integritas pemilu dan keadilan demokrasi.
“Karena pada akhirnya, tugas kita bukan hanya sekadar mengawasi pemilu. Tugas kita adalah menjaga makna suara rakyat,” tutupnya.
Ketua Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah Yuli Efendi,S.H menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Ngabuburit Pengawasan 2026 yang diinisiasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang refleksi yang sangat relevan bagi seluruh jajaran pengawas pemilu, khususnya dalam memperkuat tata kelola kelembagaan di tengah dinamika demokrasi yang semakin kompleks.
Ia menegaskan bahwa keikutsertaan Bawaslu Lampung Tengah dalam kegiatan tersebut bukan sekadar mengikuti agenda nasional, tetapi sebagai bentuk komitmen untuk terus memperkuat integritas dan profesionalisme lembaga.
“Kegiatan Ngabuburit Pengawasan ini memberikan penguatan moral sekaligus intelektual bagi kami. Apa yang disampaikan oleh Ketua Bawaslu RI menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak hanya berbicara tentang hari pemungutan suara, tetapi tentang proses panjang yang dibangun di atas kepercayaan publik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa refleksi yang disampaikan oleh Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, terkait tata kelola kelembagaan sangat relevan dengan kondisi pengawasan saat ini, terutama dalam menghadapi tantangan di ruang digital, potensi pelanggaran, serta meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap transparansi dan akuntabilitas lembaga.
Menurutnya, tata kelola yang kuat akan melahirkan pengawasan yang berintegritas. Oleh karena itu, Bawaslu Lampung Tengah berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem kerja, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memastikan setiap laporan masyarakat ditangani secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Kami memaknai momentum Ramadan ini sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat integritas dan introspeksi diri. Netralitas adalah harga mati, profesionalisme adalah standar, dan kepercayaan publik adalah amanah yang harus dijaga,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa semangat “menunggu berbuka sambil menambah makna” menjadi simbol bahwa setiap momen dapat dijadikan ruang pembelajaran dan penguatan komitmen kelembagaan.
Menutup pernyataannya, Ketua Bawaslu Lampung Tengah menegaskan bahwa pihaknya siap terus berkolaborasi dengan masyarakat dalam menjaga proses demokrasi yang jujur dan adil.
“Pada akhirnya, tugas kami bukan hanya mengawasi tahapan pemilu, tetapi menjaga makna suara rakyat agar tetap bermartabat dan terlindungi,” pungkasnya.
Dengan semangat refleksi tersebut, Bawaslu Lampung Tengah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, menjaga integritas, serta memastikan setiap proses demokrasi berjalan sesuai prinsip keadilan dan kejujuran.
#NgabuburitPengawasan2026
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T