Lompat ke isi utama

Berita

REFLEKSI RAMADAN BERSAMA LOLLY SUHENTY, BAWASLU LAMPUNG TENGAH PERKUAT PENCEGAHAN DAN PARTISIPASI PUBLIK

Bawaslu Lampung Tengah Hadiri Ngabuburit Pengawasan Edisi ke-5, Tekankan Integritas dan Keteladanan dalam Pengawasan Pemilu

Bawaslu Lampung Tengah Hadiri Ngabuburit Pengawasan Edisi ke-5, Tekankan Integritas dan Keteladanan dalam Pengawasan Pemilu

Lampung Tengah — Dalam semangat Ramadan yang penuh refleksi dan penguatan nilai-nilai integritas, Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah mengikuti kegiatan “Ngabuburit Pengawasan 2026” edisi ke-5 yang diselenggarakan oleh Bawaslu Republik Indonesia pada Senin, 2 Maret 2026 pukul 16.00 WIB dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Bawaslu RI.

Pada edisi kali ini, kegiatan diisi dengan kultum oleh Anggota Bawaslu RI, Lolly Suhenty, S.Sos.I., M.H., yang mengangkat tema “Refleksi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat” serta pesan utama “Dari Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial: Ramadan dan Keteladanan dalam Pengawasan Pemilu.”

Mengawali tausiyahnya dengan ucapan, Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Lolly Suhenty menyapa sahabat-sahabat pengawas pemilu di seluruh Nusantara. Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah personal, melainkan ruang pembelajaran dan pembentukan karakter sosial. Puasa tidak hanya melatih menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesadaran batin untuk tumbuh menjadi pribadi yang saleh, yang kemudian bertransformasi menjadi kesalehan sosial.

“Spiritualitas kita tidak boleh berhenti di atas sajadah, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam refleksinya, Lolly menekankan bahwa pengawasan pemilu tidak cukup dijalankan melalui aturan dan prosedur semata. Regulasi adalah fondasi, tetapi karakter dan integritas adalah ruhnya. Tanpa integritas, pengawasan hanya menjadi formalitas administratif. Namun dengan keteladanan, pengawasan menjadi gerakan moral yang hidup dan bermakna.

Ia menegaskan bahwa pencegahan yang kuat, partisipasi yang luas, dan komunikasi yang baik merupakan kunci pengawasan yang efektif. Pencegahan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang berjarak. Ia harus dibangun melalui kedekatan sosial, dialog yang hangat, serta kemauan untuk mendengar dan memahami masyarakat.

Literasi kepemiluan, menurutnya, tidak lahir dari ruang yang eksklusif, melainkan dari interaksi yang tulus. Ngabuburit Pengawasan menjadi salah satu ruang kreatif untuk menyebarkan edukasi kepemiluan secara santai namun substansial. Ketika Bawaslu hadir sebagai sahabat masyarakat, pengawasan tidak lagi berjalan sendiri. Ia menjadi gerakan bersama yang ditopang oleh partisipasi, kesadaran, dan tanggung jawab kolektif.

Lolly mengajak seluruh jajaran pengawas untuk memaknai Ramadan sebagai madrasah kejujuran. Puasa melatih manusia untuk tetap benar meski tidak ada yang melihat. Integritas sejati, menurutnya, lahir dari kesadaran kepada Tuhan, bukan semata-mata karena diawasi oleh manusia.

Nilai inilah yang harus dihadirkan dalam pengawasan pemilu. Pengawasan berjalan lurus bukan karena pengawas diawasi, tetapi karena kesadaran batin untuk menjaga amanah. Dari kesalehan pribadi yang otentik, lahir kesalehan sosial yang berdampak luas.

Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah kenabian, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dikenal dengan gelar al-amin, yang terpercaya. Gelar tersebut tidak datang secara tiba-tiba, melainkan lahir dari konsistensi, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan sosial dibangun jauh sebelum misi besar dijalankan.

“Inilah pesan penting bagi kita, bahwa perubahan besar selalu berawal dari integritas personal,” tegasnya.

Dalam konteks pengawasan pemilu, tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana. Dinamika politik yang kompleks, keterbatasan sumber daya, serta tingginya ekspektasi publik menuntut lebih dari sekadar kecakapan teknis. Yang dibutuhkan adalah keteguhan moral.

Kepercayaan publik, lanjut Lolly, tidak lahir semata-mata dari regulasi dan prosedur, tetapi dari sikap yang jujur, terbuka, dan adil. Ketika pengawas bersikap konsisten dalam menjaga integritas, masyarakat akan merasakan kehadiran lembaga yang dapat dipercaya.

Pengawasan sejati bukan hanya soal mencatat pelanggaran, tetapi juga menghidupkan kesadaran. Bukan sekadar menindak, tetapi juga mencegah. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga mengajak. Di sinilah pendidikan politik menemukan relevansinya—membangun masyarakat yang sadar, aktif, dan berkelanjutan dalam menjaga demokrasi.

Bagi Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah, keikutsertaan dalam Ngabuburit Pengawasan 2026 edisi ke-5 ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kelembagaan, khususnya dalam aspek pencegahan, partisipasi masyarakat, dan hubungan masyarakat.

Meski tahapan pemilu dan pemilihan telah usai, penguatan demokrasi tidak pernah selesai. Justru pada masa non-tahapan inilah pendidikan politik dan partisipasi publik harus terus digerakkan. Hal ini menjadi investasi jangka panjang menuju Pemilu 2029 yang lebih bermartabat.

Pengawasan pemilu adalah amanah—amanah untuk menjaga hak pilih rakyat, memastikan tidak ada kecurangan, serta melindungi demokrasi dari praktik-praktik yang merusaknya. Karena itu, Ramadan dijadikan momentum untuk meneguhkan komitmen, memperkuat integritas, dan menghadirkan keteladanan dalam setiap peran yang dijalankan.

Melalui semangat kesalehan pribadi yang tumbuh menjadi kesalehan sosial, Bawaslu Lampung Tengah berkomitmen untuk terus menghadirkan pengawasan yang tidak hanya kuat secara regulatif, tetapi juga kokoh secara moral dan sosial. Dengan pencegahan yang kuat, partisipasi yang luas, dan komunikasi yang baik, pengawasan pemilu diharapkan semakin efektif dan berakar di tengah masyarakat.

Semoga nilai-nilai Ramadan yang dilatih selama bulan suci ini benar-benar berbuah dalam tindakan nyata, memperkuat fondasi demokrasi Indonesia, dan menghadirkan pengawasan yang hidup karena kesadaran, bukan semata-mata karena aturan.

r

 

r

 

r

Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah

Penulis dan Editor: 1T