BAWASLU LAMPUNG TENGAH HADIRI NGABUBURIT PENGAWASAN BAWASLU LAMPUNG BARAT, SOROTI PERAN SDM DALAM PENGAWASAN PEMILU
|
Lampung Tengah — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah mengikuti kegiatan Ngabuburit Pengawasan yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kabupaten Lampung Barat pada Selasa, 10 Maret 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi Bawaslu Kabupaten Lampung Barat dan diikuti oleh jajaran pengawas pemilu dari berbagai daerah.
Ngabuburit Pengawasan kali ini mengangkat tema “Sumber Daya Manusia Pengawas Pemilu”, yang menekankan pentingnya kualitas dan integritas sumber daya manusia sebagai pilar utama dalam menjaga pengawasan pemilu yang berintegritas dan terpercaya.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi santai menjelang waktu berbuka puasa. Selain menambah wawasan mengenai demokrasi dan kepemiluan, kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya peran manusia dalam menjalankan sistem pengawasan pemilu.
Dalam tayangan tersebut, narasumber yang hadir adalah Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Lampung Barat, yaitu Tamam Mulhadi. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa keberhasilan pengawasan pemilu tidak hanya ditentukan oleh aturan atau sistem yang ada, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya.
Ia mengawali penyampaiannya dengan refleksi mengenai makna bulan suci Ramadan. Menurutnya, Ramadan merupakan momentum yang tepat bagi setiap individu untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari, merenungkan diri, serta memperbaiki niat dalam menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab.
“Menjelang waktu berbuka puasa, Ramadan sering menjadi waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menarik napas, dan merenung. Kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sedang melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Ramadan sesungguhnya merupakan “sekolah kehidupan” yang mengajarkan manusia untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menata kembali niat dalam menjalankan berbagai pekerjaan dan tanggung jawab.
Nilai-nilai yang dipelajari selama bulan Ramadan tersebut, menurutnya, memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk dalam menjaga kualitas demokrasi.
Tamam Mulhadi menekankan bahwa demokrasi tidak hanya berkaitan dengan proses memilih pemimpin setiap lima tahun sekali. Lebih dari itu, demokrasi juga berkaitan dengan bagaimana proses tersebut dijaga agar tetap berjalan secara jujur, adil, serta dapat dipercaya oleh masyarakat.
Dalam konteks inilah, peran pengawas pemilu menjadi sangat penting. Pengawasan pemilu tidak hanya sekadar menjalankan prosedur administratif atau menyusun laporan, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab moral dalam menjaga keadilan dan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.
Ia menjelaskan bahwa di balik setiap sistem pengawasan pemilu terdapat manusia yang menjalankan tugas tersebut di lapangan. Para pengawas pemilu memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap tahapan pemilu berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Mereka mengawal setiap tahapan, memastikan aturan dipatuhi, dan berusaha menjaga agar proses demokrasi tetap berjalan dengan benar,” jelasnya.
Menurutnya, sumber daya manusia pengawas pemilu merupakan pilar utama dalam pengawasan demokrasi. Sebaik apa pun sistem dan regulasi yang dirancang, semuanya tetap bergantung pada orang-orang yang menjalankannya.
Apabila para pengawas memiliki integritas, keberanian, serta rasa tanggung jawab yang tinggi, maka pengawasan pemilu akan berjalan dengan baik. Namun sebaliknya, jika integritas tersebut lemah, maka aturan yang paling baik sekalipun dapat kehilangan maknanya.
Dalam pemaparannya, Tamam juga menyinggung konsep amanah yang menjadi nilai penting dalam menjalankan tugas sebagai pengawas pemilu. Ia mengingatkan bahwa setiap amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keadilan.
Ia mengutip nilai-nilai dalam ajaran Islam yang menekankan pentingnya menyampaikan amanah kepada pihak yang berhak serta mengambil keputusan secara adil.
Menurutnya, amanah tidak selalu berkaitan dengan jabatan atau tugas besar. Amanah juga dapat berupa tanggung jawab dalam pekerjaan sehari-hari, termasuk tugas sebagai pengawas pemilu yang memiliki peran penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
“Tugas sebagai pengawas pemilu merupakan amanah yang besar. Amanah untuk menjaga kepercayaan masyarakat, amanah untuk memastikan hak rakyat dalam memilih pemimpin terlindungi, serta amanah untuk berdiri di tengah berbagai kepentingan dan tetap berpihak kepada aturan serta keadilan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Pesan tersebut, menurutnya, memiliki makna yang sangat mendalam bagi para pengawas pemilu. Setiap tanggung jawab yang dijalankan, sekecil apa pun, pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan.
Lebih lanjut, Tamam Mulhadi menjelaskan bahwa Ramadan juga mengajarkan nilai integritas yang sangat mendasar. Ketika seseorang berpuasa, tidak ada orang lain yang benar-benar mengawasi apakah ia menahan makan dan minum atau tidak. Namun seorang muslim tetap menjaga puasanya karena menyadari bahwa Tuhan selalu melihat.
Nilai kejujuran yang lahir dari kesadaran pribadi inilah yang seharusnya juga dimiliki oleh para pengawas pemilu dalam menjalankan tugasnya.
Ia mengajak para pengawas untuk bekerja secara jujur dan objektif, meskipun tidak ada yang mengawasi secara langsung. Integritas, menurutnya, harus muncul dari kesadaran pribadi untuk menjaga keadilan dan kepercayaan masyarakat.
“Bayangkan jika nilai ini juga kita bawa dalam tugas pengawasan pemilu. Pengawas akan bekerja dengan jujur meskipun tidak ada yang melihat, tetap objektif meskipun menghadapi tekanan, dan tetap memegang aturan meskipun berada di tengah berbagai kepentingan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengawasan pemilu yang dilakukan dengan niat menjaga keadilan dan melindungi hak masyarakat dapat menjadi bagian dari ibadah. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik dan penuh tanggung jawab akan memiliki nilai kebaikan di sisi Tuhan.
Menurutnya, demokrasi yang sehat tidak hanya lahir dari aturan yang baik, tetapi juga dari manusia-manusia yang memiliki integritas dan komitmen terhadap keadilan.
Oleh karena itu, penguatan sumber daya manusia pengawas pemilu menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi.
Kegiatan Ngabuburit Pengawasan ini berlangsung dengan suasana santai namun sarat makna. Para peserta yang mengikuti tayangan tersebut tampak antusias menyimak pemaparan narasumber serta mengambil berbagai pelajaran penting yang disampaikan.
Bagi jajaran Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah, kegiatan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya integritas dan profesionalitas dalam menjalankan tugas pengawasan pemilu.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan seluruh pengawas pemilu dapat terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kejujuran dan keadilan, serta menjaga amanah dalam menjalankan tugas pengawasan.
Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah juga berharap kegiatan seperti Ngabuburit Pengawasan dapat terus menjadi ruang pembelajaran yang bermanfaat, khususnya dalam memadukan nilai-nilai spiritual Ramadan dengan tanggung jawab menjaga demokrasi.
Dengan semangat kebersamaan dan refleksi di bulan suci Ramadan, diharapkan seluruh jajaran pengawas pemilu dapat terus menjaga integritas serta berkontribusi dalam mewujudkan demokrasi yang jujur, adil, dan bermartabat di Indonesia.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T