BAWASLU LAMPUNG TENGAH IKUTI NGABUBURIT PENGAWASAN 2026, GISTIAWAN TEKANKAN KONSOLIDASI DEMOKRASI DAN SPIRIT PERSATUAN BANGSA
|
Lampung Tengah — Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Lampung Tengah kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pemahaman kebangsaan serta integritas kelembagaan dengan mengikuti kegiatan “Ngabuburit Pengawasan 2026” yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Lampung pada Rabu, 11 Maret 2026. Kegiatan yang dimulai pada pukul 16.00 WIB tersebut dilaksanakan secara daring dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Bawaslu Lampung sehingga dapat diikuti oleh seluruh jajaran pengawas pemilu di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di wilayah Lampung.
Program Ngabuburit Pengawasan menjadi salah satu agenda yang secara rutin dilaksanakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum selama bulan suci Ramadan. Kegiatan ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana untuk menunggu waktu berbuka puasa, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bagi para pengawas pemilu untuk memperkuat komitmen dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai spiritual Ramadan dipadukan dengan wawasan kebangsaan serta penguatan tugas kelembagaan, sehingga tercipta forum yang tidak hanya bernuansa religius tetapi juga edukatif.
Pada kesempatan tersebut, kultum atau kuliah tujuh menit disampaikan oleh Gistiawan, Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Lampung, yang mengangkat tema “Konsolidasi Demokrasi: Ramadan dan Spirit Persatuan Bangsa.” Dalam penyampaiannya, ia mengajak seluruh jajaran pengawas pemilu dan masyarakat untuk menjadikan momentum Ramadan sebagai ruang refleksi dalam memperkuat komitmen kebangsaan sekaligus memperkokoh demokrasi yang berlandaskan nilai persatuan.
Mengawali penyampaiannya dengan salam dan ungkapan syukur, ia mengingatkan bahwa demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai proses pemilihan umum semata. Menurutnya, demokrasi merupakan proses panjang yang melibatkan pembangunan kepercayaan publik, penguatan komitmen kebangsaan, serta upaya merawat persatuan dalam keberagaman.
“Demokrasi bukan sekadar tentang pemilu, bukan hanya tentang memilih dan dipilih. Demokrasi adalah proses panjang membangun persatuan, menumbuhkan kepercayaan publik, serta merawat komitmen kebangsaan,” ungkapnya dalam kultum yang disampaikan kepada para peserta kegiatan.
Ia menegaskan bahwa demokrasi yang sehat tidak hanya lahir dari proses pemungutan suara di bilik suara, tetapi juga dari kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan. Dalam konteks tersebut, lembaga pengawas pemilu memiliki peran penting dalam memastikan bahwa seluruh proses demokrasi berjalan secara jujur, adil, dan bermartabat.
Menurutnya, tugas pengawasan yang dijalankan oleh Bawaslu tidak hanya sebatas memastikan aturan dipatuhi, tetapi juga menjaga agar proses demokrasi berlangsung secara transparan, adil, dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Melalui pengawasan yang profesional dan berintegritas, Bawaslu berperan dalam memperkuat konsolidasi demokrasi di Indonesia.
Ia juga menjelaskan bahwa pengawasan pemilu dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain penguatan sistem pengawasan, pendidikan politik kepada masyarakat, serta pelibatan publik dalam mengawal setiap tahapan pemilu. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan demokrasi tidak hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Dalam pemaparannya, Gistiawan menekankan bahwa konsolidasi demokrasi memiliki keterkaitan erat dengan tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga penyelenggara pemilu. Tanpa kepercayaan masyarakat, demokrasi akan menjadi rapuh dan kehilangan legitimasi.
Oleh karena itu, menurutnya, pengawasan partisipatif menjadi salah satu kunci penting dalam memperkuat kualitas demokrasi. Ketika masyarakat dilibatkan secara aktif dalam mengawasi proses pemilu, maka demokrasi akan menjadi milik bersama dan bukan hanya milik segelintir pihak.
“Tanpa partisipasi masyarakat, demokrasi akan kehilangan ruhnya. Karena itu, pengawasan partisipatif menjadi sangat penting agar masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam menjaga integritas proses demokrasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengaitkan nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah Ramadan dengan upaya memperkuat konsolidasi demokrasi. Menurutnya, Ramadan mengajarkan berbagai nilai luhur yang sangat relevan dengan kehidupan demokrasi, seperti kesabaran, persaudaraan, dan keikhlasan dalam menjalankan amanah.
Nilai pertama yang ia tekankan adalah kesabaran dalam menghadapi perbedaan. Dalam sistem demokrasi, perbedaan pilihan politik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Setiap individu memiliki pandangan dan preferensi yang berbeda, sehingga perbedaan menjadi bagian alami dalam kehidupan demokrasi.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perbedaan tersebut tidak boleh menjadi sumber konflik yang memecah belah masyarakat. Ramadan mengajarkan umat untuk mampu menahan diri, mengendalikan emosi, serta tidak mudah terpancing oleh provokasi yang dapat merusak persatuan.
“Demokrasi yang matang adalah demokrasi yang mampu mengelola perbedaan tanpa menimbulkan perpecahan,” ujarnya.
Nilai kedua yang disampaikan adalah pentingnya persaudaraan dalam keberagaman. Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman suku, agama, budaya, serta pandangan politik. Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama.
Ramadan, menurutnya, menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat ukhuwah atau persaudaraan di tengah masyarakat. Setelah proses pemilu selesai dan kompetisi politik berakhir, yang harus tetap dijaga adalah persatuan sebagai bangsa.
Ia mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tidak sampai memutus tali silaturahmi atau merusak harmoni sosial di tengah masyarakat. Kompetisi politik harus dipandang sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat, bukan sebagai alasan untuk menciptakan konflik atau permusuhan.
Nilai ketiga yang ia tekankan adalah keikhlasan dalam menjalankan pengabdian. Menurutnya, setiap penyelenggara dan pengawas pemilu memikul amanah besar dalam menjaga keadilan dan integritas proses demokrasi.
Tugas tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral dalam memastikan bahwa setiap warga negara dapat menggunakan hak pilihnya secara bebas dan terlindungi.
Ia menegaskan bahwa Ramadan mengajarkan pentingnya bekerja dengan niat yang tulus dan tanpa pamrih. Nilai keikhlasan tersebut harus menjadi landasan bagi seluruh jajaran pengawas pemilu dalam menjalankan tugas pengawasan.
“Setiap tugas yang kita jalankan adalah amanah untuk menjaga keadilan, memastikan hak pilih terlindungi, dan mengawal demokrasi agar tetap berada di rel konstitusi,” tuturnya.
Dalam bagian akhir penyampaiannya, Gistiawan juga menekankan bahwa konsolidasi demokrasi merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Proses tersebut membutuhkan upaya terus-menerus untuk memperbaiki sistem, meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat, serta memperkuat integritas seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilu.
Menurutnya, demokrasi yang telah terkonsolidasi akan ditandai dengan beberapa ciri utama, antara lain kuatnya kelembagaan demokrasi, tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga publik, serta kemampuan menyelesaikan konflik melalui mekanisme hukum yang tersedia.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ruang publik yang sehat, terutama di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta provokasi yang bersifat memecah belah harus dihindari agar tidak merusak kualitas demokrasi.
“Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat ukhuwah kebangsaan dan merefleksikan bahwa perbedaan adalah rahmat, bukan ancaman,” ajaknya.
Bagi Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Lampung Tengah, partisipasi dalam kegiatan Ngabuburit Pengawasan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas kelembagaan serta meningkatkan pemahaman kebangsaan bagi seluruh jajaran pengawas pemilu.
Melalui forum seperti ini, diharapkan para pengawas pemilu tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam menjalankan tugas pengawasan, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat serta komitmen untuk menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika demokrasi.
Dengan semangat Ramadan yang penuh keberkahan, kegiatan Ngabuburit Pengawasan diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat nilai-nilai integritas, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan komitmen seluruh jajaran Bawaslu dalam mengawal demokrasi Indonesia agar tetap berjalan secara jujur, adil, dan bermartabat.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T