Lompat ke isi utama

Berita

LITERASI DIGITAL JADI KUNCI, BAWASLU LAMPUNG TENGAH IKUTI SHARING SESSION 108 BAHAS MISINFORMASI BERBASIS AI

Bawaslu Lampung Tengah Ikuti Sharing Session Eps-108: Perkuat Berpikir Kritis dan Literasi Digital ASN Hadapi Disinformasi Berbasis AI

Bawaslu Lampung Tengah Ikuti Sharing Session Eps-108: Perkuat Berpikir Kritis dan Literasi Digital ASN Hadapi Disinformasi Berbasis AI

Lampung Tengah — Dalam upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia di era transformasi digital, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah mengikuti kegiatan Sharing Session Episode 108 yang diselenggarakan oleh BPSDM Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa, 03 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut mengangkat tema “Menguatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Literasi Digital ASN Dalam Menghadapi Disinformasi dan Misinformasi Berbasis AI.”

Kegiatan ini dilaksanakan pukul 10.00–12.00 WITA atau 09.00–11.00 WIB dan diikuti oleh aparatur sipil negara (ASN) dari berbagai daerah di Indonesia. Partisipasi Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah menjadi bagian dari komitmen kelembagaan dalam meningkatkan kompetensi ASN, khususnya dalam menghadapi tantangan informasi di ruang digital yang semakin kompleks.

Acara diawali dengan sambutan dari Kepala BPSDM Provinsi Kalimantan Timur, Nina Dewi, yang menekankan pentingnya peningkatan kapasitas literasi digital bagi ASN. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam pola produksi dan distribusi informasi. Di satu sisi memberikan kemudahan, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan serius berupa maraknya disinformasi dan misinformasi.

“ASN harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas informasi publik. Kemampuan berpikir kritis dan literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak,” tegasnya.

Sharing session ini menghadirkan narasumber nasional, Ismail Fahmi, Founder Drone Emprit, yang dikenal luas sebagai analis media sosial dan data percakapan publik. Dalam paparannya, Ismail Fahmi menjelaskan bahwa disinformasi dan misinformasi yang dihadapi masyarakat saat ini tidak lagi terbatas pada isu politik, seperti pada momentum pemilihan presiden, tetapi juga merambah pada sektor ekonomi dan keamanan.

Ia mencontohkan maraknya modus penipuan (scamming) yang menyamar sebagai teman atau pihak tertentu dengan memanfaatkan kecanggihan AI, termasuk penggunaan gambar, suara, hingga video manipulatif (deepfake). “Kalau disinformasi yang sering kita temui memang banyak terjadi saat momentum politik. Tetapi yang paling merugikan masyarakat secara langsung sering kali dalam bentuk penipuan ekonomi. Modusnya beragam dan terus berkembang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ismail Fahmi menekankan pentingnya membangun SOP dalam diri setiap individu ASN, yakni kebiasaan untuk berhenti sejenak (stop), memverifikasi, dan berpikir kritis sebelum mempercayai atau menyebarluaskan informasi. Menurutnya, ekosistem disinformasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga aspek psikologi manusia, seperti emosi, ketakutan, dan kecenderungan untuk bereaksi cepat tanpa verifikasi.

Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung fenomena beredarnya video serangan bom atau konflik antarnegara yang belum tentu benar, namun diklaim sebagai peristiwa nyata dengan narasi provokatif. Informasi semacam ini dapat memicu kepanikan, ketegangan sosial, bahkan mempengaruhi stabilitas ekonomi apabila tidak disikapi dengan bijak.

“ASN memiliki peran strategis sebagai benteng informasi. Ketika ASN memiliki literasi digital yang kuat, maka ia tidak mudah terprovokasi, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mampu memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat,” jelasnya.

Kegiatan ini dipandu oleh moderator Badi’Zulfa Nihayaati, Widyaiswara BPSDM Provinsi Kalimantan Timur, yang secara interaktif mengarahkan diskusi dan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait strategi praktis menghadapi konten manipulatif berbasis AI, penggunaan alat analisis digital, serta cara membangun budaya berpikir kritis di lingkungan kerja.

Bagi Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah, partisipasi dalam kegiatan ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tugas dan fungsi pengawasan demokrasi. Di tengah dinamika informasi yang cepat dan masif, penguatan literasi digital menjadi aspek krusial dalam menjaga integritas proses demokrasi serta mencegah penyebaran hoaks yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan politik.

Melalui kegiatan Sharing Session Episode 108 ini, Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah semakin meneguhkan komitmennya untuk terus meningkatkan kapasitas kelembagaan, memperkuat kompetensi ASN, serta menjadi institusi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan kemampuan berpikir kritis yang terasah dan literasi digital yang mumpuni, ASN diharapkan mampu menjadi filter informasi sekaligus agen edukasi publik dalam menghadapi tantangan disinformasi dan misinformasi berbasis AI.

Ke depan, Bawaslu Lampung Tengah akan terus mendorong partisipasi aktif dalam berbagai forum penguatan kapasitas, sebagai bagian dari upaya membangun ASN yang profesional, berintegritas, dan siap menghadapi era digital yang terus berkembang.

r

 

r

 

r

 

r

 

r

 

r

 

r

 

r

Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah

Penulis dan Editor: 1T