Lompat ke isi utama

Berita

PERINGATI HARI KEBEBASAN PERS SEDUNIA, LUKITO HADI SUMARTO TEKANKAN PENTINGNYA PERS BEBAS DI ERA AI

r

Lukito Hadi Sumarto Ucapkan Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026, Soroti Ancaman Disinformasi Digital

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day kembali menjadi momentum penting bagi dunia untuk menegaskan komitmen terhadap kebebasan berekspresi, keterbukaan informasi, dan peran vital pers dalam menjaga kualitas demokrasi. Tahun 2026 ini, peringatan tersebut mengangkat tema global “Shaping a Future at Peace” atau “Membentuk Masa Depan yang Damai”, sebuah seruan internasional untuk menyeimbangkan pesatnya kemajuan teknologi dengan prinsip dasar kebebasan pers dan keamanan informasi.

Koordinator Sekretariat Bawaslu Kabupaten Lampung Tengah, Lukito Hadi Sumarto, menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 sekaligus menegaskan pentingnya peran pers sebagai pilar utama demokrasi, khususnya dalam konteks pengawasan pemilu dan penguatan ruang publik yang sehat.

Lukito menilai bahwa pers memiliki posisi strategis dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di tengah meningkatnya kompleksitas arus informasi digital, media diharapkan tetap menjadi garda terdepan dalam menyajikan fakta serta menangkal berbagai bentuk manipulasi informasi yang berpotensi menyesatkan publik.

Tema global yang diusung oleh UNESCO tahun ini lahir dari refleksi mendalam atas kondisi kebebasan pers dunia. Berdasarkan laporan terbaru World Trends in Freedom of Expression and Media Development, disebutkan bahwa kebebasan pers global mengalami penurunan paling tajam sejak 2012, sebuah kondisi yang dinilai setara dengan periode paling kritis dalam sejarah modern kebebasan berekspresi.

Situasi ini menjadi alarm bagi banyak negara bahwa ekosistem informasi global sedang menghadapi tantangan serius. Di tengah transformasi digital yang begitu cepat, ruang media tidak hanya dipengaruhi oleh faktor politik dan ekonomi, tetapi juga oleh perkembangan teknologi yang semakin kompleks, termasuk kecerdasan buatan (AI).

Lukito Hadi Sumarto menyoroti bahwa era disrupsi digital membawa dua sisi yang kontras. Di satu sisi, teknologi digital membuka peluang besar bagi demokrasi, memperluas akses informasi, serta mempercepat partisipasi publik dalam berbagai isu kebijakan. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga melahirkan tantangan baru yang tidak kalah serius.

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan, misalnya, kini menjadi fenomena yang tidak bisa diabaikan. Teknologi tersebut, selain bermanfaat untuk inovasi, juga dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan disinformasi, termasuk melalui rekayasa konten seperti deepfake. Fenomena ini dinilai semakin mengkhawatirkan karena mampu memanipulasi persepsi publik secara halus namun efektif.

Menurutnya, penyebaran informasi palsu yang terstruktur dan sistematis dapat menjadi ancaman nyata bagi stabilitas sosial, keamanan nasional, dan bahkan perdamaian global. Ketika informasi tidak lagi dapat diverifikasi dengan mudah, maka ruang publik berisiko dipenuhi kebingungan, ketidakpercayaan, dan polarisasi yang tajam di tengah masyarakat.

Dalam konteks inilah, tema “Shaping a Future at Peace” menjadi sangat relevan. UNESCO menegaskan bahwa masa depan yang damai hanya dapat dibangun jika ekosistem informasi global tetap sehat, terbuka, dan bebas dari manipulasi. Tanpa pers yang independen dan bertanggung jawab, masyarakat akan kesulitan membedakan antara fakta dan kebohongan, yang pada akhirnya dapat meruntuhkan kepercayaan publik terhadap institusi sosial dan politik.

UNESCO juga menekankan bahwa kebebasan pers bukan hanya soal hak jurnalis, tetapi juga hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar. Oleh karena itu, perlindungan terhadap kebebasan pers menjadi bagian penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global di era digital.

Lebih lanjut, Lukito Hadi Sumarto mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media, penyelenggara pemilu, dan masyarakat sipil, untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan ruang informasi yang sehat dan bertanggung jawab. Ia menekankan pentingnya literasi digital sebagai benteng utama dalam menghadapi derasnya arus informasi yang tidak selalu dapat dipastikan kebenarannya.

Ia juga menegaskan bahwa kebebasan pers harus selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral dan etika jurnalistik. Dalam situasi politik yang dinamis, khususnya menjelang dan selama proses pemilu, peran media menjadi semakin krusial dalam menjaga keseimbangan informasi dan mencegah eskalasi konflik akibat pemberitaan yang tidak berimbang.

Di akhir pernyataannya, Lukito menegaskan bahwa perdamaian tidak akan pernah terwujud di ruang publik yang gelap dan dipenuhi disinformasi. Hanya dengan pers yang bebas, independen, dan profesional, masyarakat dapat memperoleh informasi yang mencerahkan dan membangun kepercayaan publik yang sehat.

Dengan semangat Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026, pesan yang disampaikan menjadi semakin tegas: masa depan yang damai hanya dapat dibentuk jika kebebasan pers dijaga, kebenaran informasi dilindungi, dan ruang publik tetap menjadi ruang yang terbuka bagi dialog yang sehat dan konstruktif.

Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah

Penulis dan Editor: 1T