PENGAWASAN BERSAMA JADI PILAR, BAWASLU LAMPUNG TENGAH DORONG PARTISIPASI MASYARAKAT
|
Demokrasi tidak hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu semata, melainkan juga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Hal inilah yang ditegaskan oleh Ketua Bawaslu Lampung Tengah, Yuli Efendi, S.H., dalam pernyataannya, “Demokrasi butuh pengawasan bersama.”
Dalam konteks pelaksanaan demokrasi, khususnya menjelang tahapan pemilu dan pemilihan, peran pengawasan menjadi salah satu pilar penting untuk memastikan proses berjalan jujur, adil, dan transparan. Yuli Efendi menilai bahwa tanpa adanya partisipasi publik dalam pengawasan, potensi pelanggaran akan semakin sulit dicegah secara menyeluruh.
Ia menjelaskan bahwa Bawaslu sebagai lembaga pengawas memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh wilayah dan setiap tahapan secara detail. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat, mulai dari tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan, hingga individu, menjadi kunci dalam menciptakan demokrasi yang berkualitas.
“Pengawasan bukan hanya tugas kami di Bawaslu. Masyarakat memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk ikut menjaga integritas demokrasi. Ketika masyarakat aktif melaporkan dugaan pelanggaran, itu adalah bentuk nyata kepedulian terhadap masa depan bangsa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yuli Efendi juga menyoroti pentingnya edukasi politik kepada masyarakat. Menurutnya, pemahaman yang baik tentang hak dan kewajiban sebagai pemilih akan mendorong masyarakat untuk lebih kritis dan berani bersuara ketika menemukan kejanggalan dalam proses demokrasi.
Ia menambahkan bahwa pengawasan partisipatif bukan sekadar slogan, melainkan sebuah gerakan yang harus terus dibangun secara berkelanjutan. Dengan adanya kolaborasi antara penyelenggara pemilu, aparat penegak hukum, dan masyarakat, maka potensi pelanggaran seperti politik uang, kampanye hitam, hingga penyalahgunaan kekuasaan dapat diminimalisir.
Dalam kesempatan tersebut, Yuli juga mengajak generasi muda untuk tidak apatis terhadap proses demokrasi. Ia menilai bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang dapat membawa semangat baru dalam menjaga nilai-nilai demokrasi.
“Anak muda jangan hanya menjadi penonton. Jadilah bagian dari pengawasan itu sendiri. Laporkan jika ada pelanggaran, dan gunakan hak pilih dengan bijak,” tegasnya.
Di tengah dinamika politik yang semakin kompleks, pernyataan “Demokrasi butuh pengawasan bersama” menjadi pengingat bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh kesadaran kolektif masyarakat. Tanpa pengawasan yang kuat dan partisipatif, demokrasi berisiko kehilangan esensinya sebagai sarana kedaulatan rakyat.
Dengan semangat kolaborasi dan keterlibatan aktif semua pihak, diharapkan demokrasi di Lampung Tengah khususnya, dan Indonesia pada umumnya, dapat terus tumbuh menjadi lebih matang, berintegritas, dan mampu mencerminkan kehendak rakyat secara utuh.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T