MOMENTUM HARI BUKU NASIONAL, KETUA BAWASLU LAMPUNG TENGAH SERUKAN GERAKAN LITERASI
|
Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional yang jatuh setiap tanggal 17 Mei, Ketua Bawaslu Lampung Tengah, Yuli Efendi, S.H., menyampaikan ucapan sekaligus ajakan kepada seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus meningkatkan budaya membaca dan literasi di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Momentum Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat penting bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang memiliki wawasan luas, pola pikir kritis, serta kemampuan literasi yang baik. Ia menilai, buku tetap menjadi jendela ilmu pengetahuan yang memiliki peran besar dalam membangun karakter, memperkuat pemahaman demokrasi, dan menciptakan masyarakat yang cerdas dalam menyikapi berbagai informasi.
“Peringatan Hari Buku Nasional harus menjadi momentum untuk kembali menumbuhkan semangat membaca di tengah masyarakat. Buku adalah sumber ilmu dan inspirasi. Dengan membaca, kita dapat meningkatkan kualitas diri sekaligus memperkuat kesadaran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Yuli Efendi.
Ia juga mengingatkan bahwa Hari Buku Nasional pertama kali digagas pada tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar. Gagasan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Karena itu, peringatan ini diharapkan mampu menjadi pemicu lahirnya budaya literasi yang lebih kuat di berbagai kalangan.
Menurut Yuli, tantangan literasi saat ini semakin kompleks. Di era digital, masyarakat memang semakin mudah memperoleh informasi, namun tidak seluruh informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh sebab itu, budaya membaca buku dinilai penting untuk membentuk masyarakat yang lebih bijak dalam menerima dan menyaring informasi.
Ia menambahkan bahwa peningkatan literasi juga memiliki kaitan erat dengan penguatan demokrasi. Masyarakat yang gemar membaca akan lebih kritis, tidak mudah terprovokasi hoaks, serta mampu memahami berbagai persoalan publik secara objektif. Hal tersebut sangat penting dalam mendukung terciptanya iklim demokrasi yang sehat dan berkualitas.
“Budaya membaca harus terus ditanamkan sejak dini. Ketika masyarakat memiliki literasi yang baik, maka masyarakat akan lebih cerdas dalam menyikapi informasi, termasuk dalam kehidupan demokrasi dan pengawasan partisipatif,” tambahnya.
Yuli Efendi juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, tenaga pendidik, hingga komunitas literasi, untuk bersama-sama membangun semangat membaca di lingkungan masing-masing. Ia berharap peringatan Hari Buku Nasional dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah maupun bangsa tidak lepas dari masyarakat yang cinta ilmu pengetahuan.
Selain itu, ia menilai bahwa buku bukan hanya sarana pendidikan, tetapi juga media untuk memperluas wawasan, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta membangun karakter generasi penerus yang berintegritas. Di tengah arus modernisasi dan penggunaan media sosial yang semakin dominan, keberadaan buku tetap memiliki nilai penting sebagai sumber pembelajaran yang mendalam dan berkelanjutan.
“Melalui Hari Buku Nasional ini, saya mengajak seluruh masyarakat Lampung Tengah untuk kembali membiasakan budaya membaca, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja. Mari jadikan membaca sebagai kebutuhan dan bagian dari kehidupan sehari-hari demi menciptakan generasi yang cerdas, berdaya saing, dan berakhlak,” tutupnya.
Peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei menjadi momentum nasional untuk meningkatkan kesadaran pentingnya literasi di Indonesia. Dengan semangat membaca dan belajar yang terus tumbuh, diharapkan masyarakat Indonesia mampu menghadapi tantangan zaman serta berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan bangsa yang lebih maju.
Foto: Humas Bawaslu Lampung Tengah
Penulis dan Editor: 1T